Senin, 08 Oktober 2012

Doa Jahatku

Setiap cinta punya cerita.

Mungkin kata itu tepat untuk menggambarkan perasaanku sekarang. Kisah cintaku ini tak terlalu menyenangkan. Aku kehilangannya, cinta pertamaku, dan sekarang aku harus ikut bahagia dalam bingkai cintanya bersama yang baru. Ah, dosa apa aku..

Aku memang belum merelakanmu, masalahkah? Jujur, aku tak pernah melepasmu sepenuh hati ini. Tapi, aku bisa apa jika kamu sudah ingin melepasku?

Kisah ini belum usai, rindu ini belum habis. 

Ini kisahku, seorang gadis yang tak terlalu dihujai keberuntungan. Kenalkan kawan, namaku Cersy, mereka biasa memanggilku Esy. Aku hanyalah gadis biasa berusia hampir 20 tahun. Tapi postur tubuhku tak terlalu tinggi, jadi banyak yang mengira aku masih berusia belasan tahun, begitu juga wajahku yang sebenarnya masih terlalu muda untuk menginjak di usia ini.

Di usiaku yang hampir 20 tahun ini sebenarnya adalah saat-saat dimana aku harus mencari seseorang yang akan menjadi imamku kelak dan kali ini aku tak mencari seorang pacar, melainkan seorang pedamping hidup yang akan membawaku meniti biduk rumah tangga. Tapi apa daya, seseorang yang ku dambakan tak pernah ku peluk.

Aku pernah mencintai seorang pria, dan itu cinta yang pertama. Itu dulu, sekitar 4 tahun yang lalu. Saat aku masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Pria itu bernama Yuji, seorang pria imut yang sangat pandai. Ya, Yuji memang sangat imut. Matanya tak terlalu besar dengan bulu matanya yang sedikit tebal. Alisnya tipis, tak lupa bibirnya yang begitu mempesona. Ya, semua wanita pasti mengaguminya. Yuji berada dua tahun di atasku. Aku mengenalinya sejak aku mengikuti ekstrakulikuler yang sama, yaitu Tata Busana. Ya, Yuji adalah ketua dari ekskul ini. Tak heran jika setiap harinya, mataku selalu dihiasi oleh kilau keindahan Yuji, ia selalu pandai berpakaian. Tak pernah sedikitpun ada lecek menempel di pakaiannya. Yuji begitu bersih, indah dan menawan.

Memilikinya? Ya, itu mimpiku.

Tapi tunggu dulu, itu semua tak mimpi. Aku berhasil mendapatkan hatinya, aku berhasil meraih cinta pertamaku, Yuji. Ah, indahnya saat mengenangmu, Yuji..
***

Yuji memperhatikanku, ya, mata indah itu. Aku semakin salah tingkah, terlebih saat ia mendekatiku.

                “Kamu Cersy anak 1 IPA A, kan?” tanyanya dengan ramah.

                “I...Iya, Kak, he..he..” aku terbata-bata. Aku benar-benar gugup, Tuhan..

                “Hmm, bisa aku bantu merancang busanamu?”

Aku semakin bingung. Mulutku terasa terkunci, aku benar-benar tak tau harus bagaimana. Bahkan pensil yang sedari tadi ku pegang dengan tiba-tiba terlepas begitu saja. Aku hanya mampu mengangguk dan membiarkan Yuji membantuku merancang busana.

Aku masih terpaku dengan lekukan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya itu. Menyaksikan setiap goresan pensil yang ia torehkan di kertas.

                “Di bagian ini, mau kamu tambahkan apa? Bunga-bunga atau apa?” tanya Yuji.

Aku masih diam, memperhatikan matanya. Yuji terlihat bingung dengan kelakuanku yang aneh ini. Ya, kamu telah berhasil membuatku menjadi sosok yang aneh, Yuji..

                “Hei? Esy? Hello?” Yuji menggerak-gerakkan tangannya di depan pandanganku

Aku tersentak. Aku malu.

                “Eh, hmm, iya, Kak, he..he. Ma..af yaa, Kak..” aku terbata-bata

                “Kamu kenapa? Kok ngeliatin aku begitu amat?”

Aku kembali diam dan memperhatikan bola matanya yang sangat indah itu.

                “Kak, kok ganteng sih.” Aku spontan mengeluarkan kata-kata itu, karena hanya itu yang aku
                pikirkan.

                “Hah? Aku ganteng? Ah, kamu bisa aja sih.” Yuji terlihat malu-malu.

Yuji diam, aku pun diam. Aku diam menahan malu, bagaimana bisa mulutku mengucap spontan seperti itu? Ah, itulah cinta...
***

Aku dan Yuji semakin dekat. Aku rasa, Yuji menyukaiku. Eh  kenapa aku begitu berharap?
Pesan singkatmu tak pernah lepas dari ingatanku. Kata-kata manismu, selalu terbayang di setiap ku membuka mata. Aku benar-benar cinta, aku jatuh dalam lautan cintamu, Yuji..
Aku menunggumu menyatakan cinta itu. Entah kapan, tapi aku sangat berharap.  Dan saat-saat itu pun tiba.

                “Aku menyayangimu, Esy. Sejak pertama aku melihatmu di ekskul itu, aku benar-benar
                tertarik.” Kata-katanya yang sedari dulu hanya ada di mimpiku.

Aku terdiam malu. Sore itu seakan menjadi sore yang paling indah seumur hidupku, aku tak pernah merasakan getaran ini. Aku tak pernah merasakan cinta sebelumnya dan ini yang pertama kalinya. Dengan rona wajah yang memerah, aku menjawab perkataan Yuji.

                “Aku pun merasakan hal yang sama denganmu.”

                “Kita sama-sama mempunyai rasa itu, Sy. Aku tak mau berlama-lama. Maukah kamu menjadi
                kekasihku?”

Deg! Hatiku terasa di bom sebuah truk yang berisi bunga-bunga yang mewangi.

                “Aku mau menjadi kekasihmu, Yuji.”

Yuji memelukku. Dan kini, aku telah merasakan indahnya cinta pada tatapan pertama, di lekuk senyumnya.
***

Tapi semua keindahan itu tak berjalan seusai skenarioku. Yuji memutuskan hubungan ini ketika ia akan melanjutkan kuliah di Jepang, negara yang terkenal akan busananya yang trendi.

                “Maafkan aku, Sy. Aku gak bisa menolak kemauan kedua orang tuaku.” Katanya sambil
                menangis.

                “Tak perlu minta maaf. Aku pun mengerti.” Jawabku yang sok tegar.

                “Kalau kita berjodoh, nantinya kita akan bersatu lagi. Kamu cinta pertamaku, Esy.”

                “Ya, kalau berjodoh, kalau tidak?” gumamku dalam hati.

Aku memang sangat menyayangkan keputusan Yuji untuk memutuskanku dengan alasan yang seperti ini. Padahal jika rasa saling percaya dan setia itu ditanamkan, jarak tak akan menjadi masalah. Tapi ya, sudahlah, mungkin memang itu yang terbaik. Dan kali ini aku tak akan menyalahkan Tuhan.
***

Aku masih mengingat semua tentang Yuji. Bagaimana bisa aku ,melupakan kisah cinta pertamaku yang sangat indah dan menyedihkan itu?

Tapi sayang, sejak ia kuliah di Jepang dan aku lulus dari SMA itu, aku tak pernah lagi berkomunikasi dengannya. Aku tak tau bagaimana Yuji yang sekarang dan apakah ia masih mengingat cinta pertamanya? Biarkan Tuhan yang punya rencana atas semuanya. Dan aku pun harus tetap menjalani hidup tanpa bayang-bayang Yuji.

Di saat-saat aku tengah melupakannya, kenapa ia hadir lagi?
***

                “Selamat siang, dengan Cersy Collection disini, ada yang bisa dibantu?” 

                “Siang. Saya akan merencanakan pernikahan dan kali ini saya akan memakai jasa Nyonya        
                 Cersy untuk membuatkan desain baju saya dan calon suami saya.”

                “Oh begitu. Silahkan datang ke toko kami, Nyonya. Kami akan menyiapkan semua yang
                anda perlukan dalam acara itu.”

                “Baiklah, nanti siang, saya akan ke sana.”

                “Saya tunggu. Maaf dengan Nyonya siapa saya berbicara?”

                “Panggil saja saya Ruhya.”

                “Oke, Nyonya Ruhya. Selamat siang.”

Sebuah job datang lagi dari para pelangganku. Alhamdulillah, usahaku sekarang berkembang semakin pesat, ditambah lagi dengan bakatku merancang desain baju-baju pengantin yang sudah sering menjadi trend dikalangan pasangan-pasangan muda. Aku mengawali usaha ini dengan niatan penuh untuk sukses.

                “Ada job lagi, Mba?” tanya seorang karyawanku. Ya, walaupun aku adalah pemilik usaha ini,
                tapi aku enggan untuk dipanggil ‘bos’ atau sejenisnya.

                “Ada lagi nih, Wis. Nanti siang dia akan kesini. Oh, iya gimana dengan desain yang kemarin?”

                “Yang kemarin, Mba? Oh iya, pelanggan sangat menyukai desain itu. Dan beliau akan
                membayar baju rancangan Mba itu.” Jawabnya penuh antusias.

                “Syukurlah. Kalau begitu sekarang saya mau kembali ke ruangan saya.”
***

Seusai makan siang bersama semua karyawanku, kami semua kembali bekerja di bagian masing-masing. Aku duduk di meja dengan tulisan “DIREKTUR” . Dan kemudian, sebuah mobil mewah berhenti di parkiran. Dan turunlah seorang wanita yang masih muda, mungkin seusiaku. Dan aku langsung teringat dengan telepon dari seorang wanita tadi pagi. Mungkin wanita itu orangnya. Dan beberapa saat kemudian, keluarlah seorang pria gagah mengenakan jas coklat dengan kacamata yang menyangkut di tulang hidungnya. Aku mulai mengenali pria itu. Pria itu, Yuji...

Tapi apa benar itu Yuji?

                “Selamat siang, selamat datang di Cersy Collection. Ada perlu apa, Nyonya, Tuan?”
                salah seorang karyawanku memberi salam kepada mereka.

                “Saya tadi pagi sudah menelepon kesini dan sudah berjanji akan bertemu dengan Nyonya
                Cersy.” Jawab wanita itu.

                “Kalau begitu, Nyonya dan Tuan silahkan menuju meja direktur. Nyonya Cersy sudah
                menunggu.”

Dari kejauhan, aku masih memperhatikan sosok pria yang ada disamping wanita itu. Pria itu Yuji, ya aku yakin sekali. Tapi kalau benar itu Yuji, siapa wanita itu?
Mereka semakin dekat.

                “Nyonya Ruhya, ya?” tanyaku dengan ramah.

                “Iya, saya Ruhya dan ini Yuji, calon suami saya.”

Nah! Benar dugaanku. Dia Yuji, cinta pertamaku. Apakah ia masih mengenaliku? Aku menatapnya sejenak, ia tersenyum. Ya, aku tau ia mengenaliku.

                “Silahkan duduk, Nyonya, Tuan.” Aku mempersilahkan mereka duduk.

Aku memandang lagi mata indah itu. Mata indah yang sedari dulu aku rindukan. Ingin rasanya aku menangis saat ini juga. Aku tak habis pikir, kalau sekarang aku akan merancang busana pernikahan cinta pertamaku. Tuhan, ini benar-benar diluar logikaku..

                “Maaf, saya mau ke toilet sebentar.” Aku pun meninggalkan mereka dan langsung menuju
                kamar mandi.

Yuji memperhatikan mataku, dan mungkin ia tau aku akan menangis sekencang-kencangnya di dalam toilet.
Air mataku menetes. Wisnu dan beberapa karyawan lainnya mendekatiku dan menanyakan keadaanku.

                “Mba, kenapa? Kok nangis?”

                “Aku gak kenapa-kenapa.” Jawabku lemas dan berlalu menuju kamar mandi.

Sonaya mengikutiku.

                “Kamu kenapa, Sy? Ada apa?” tanyanya sambil membelai rambutku.

                “Kamu lihat pasangan tadi?”

                “Iya, lalu?”

                “Pria itu, cinta pertamaku, dia Yuji! Yuji yang selalu ku ceritakan kepadamu.”

                “Kalau begitu wanita itu adalah calon istrinya Yuji?”

                “Iya! Dan mereka akan menikah, lalu aku? Aku harus merancang busana untuk mereka!”

                “Sabar, Esy. Aku tau kamu kuat.”

                “Aku gak kuat, aku harus gimana. Aku masih ingat semua tentang Yuji.”

Sonaya memelukku erat.

                “Aku tau semuanya berat. Tapi coba lalui ini dengan doa dan niat.”

Mendengar itu. Aku langsung berdoa supaya Tuhan memberikanku kekuatan yang lebih untuk melalui semuanya.
Aku pun keluar dari kamar mandi dan menyiapkan hatiku lagi untuk mendengarkan semua keinginan Yuji dan Ruhya..

                “Maaf ya lama, hehe.” Kataku kepada Yuji dan Ruhya.

                “Iya, gak apa-apa. Oh, iya, enaknya saya panggil kamu apa ya?” tanya Ruhya.

                “Panggil saja Esy.” Celetuk Yuji.

Aku tersentak lagi. Astaga, ternyata benar, Yuji masih mengingatku dan mengingat nama panggilanku itu. Bahagia namun sedih mendengarnya.

             “Ya, memang itu nama panggilan saya. Kalau begitu konsep apa yang kalian inginkan untuk
             pernikahan itu?” tanyaku menahan sesak.

“Aku keluar ya. Bilang saja yang tadi malam aku bilang ke kamu sekarang kamu yang urus     semuanya, perutku gak beres nih.”  Suara Yuji di telinga calon istrinya.

Aku tak tau kenapa Yuji keluar dan membiarkan Ruhya mengurusi semua konsep pernikahannya. Aku dan Ruhya saling bercerita satu sama lain. Ternyata Ruhya bertemu Yuji ketika di Jepang. Mereka kuliah di satu universitas yang sama. Dan kini mereka akan menikah. Betapa beruntungnya Ruhya...
Ingin rasanya air mata ini menetes lagi, mendengar semua cerita bahagia dari mulut Ruhya. Andai dia tau kalau aku adalah cinta pertamanya Yuji..

Malamnya, aku telah merancang sebuah busana pengantin untuk Yuji dan Ruhya. Sangat menawan, dan awal dari konsep ini adalah ida dari Yuji, cinta pertamaku.
***

Pernikahan mereka berlangsung hari ini. Aku di minta Ruhya untuk datang, enggan sebenarnya. Tapi, ya, tak apalah. Aku ingin melihat senyum bahagia dari cinta pertamaku..
Yuji sangat tampan dengan busananya. Begitu juga Ruhya yang sangat anggun. Mereka berdua nampak serasi dan aku tak mampu membayangkan betapa bahagianya Ruhya saat itu. Kenapa bukan aku yang ada di sampingmu saat ini, Yuji..

Di sela-sela acara, Yuji sempat menghampiriku.

                “Terimakasih, Esy.”

Kenapa harus ‘terimakasih’ yang ku dengar darimu. Kenapa bukan ‘aku masih menyayangimu sampai detik ini.’ ya, aku hanya bermimpi untuk mendapatkan perkataannya yang seperti itu.

                “Terimakasih? Untuk apa?”

                “Untuk rancangan busana aku dan Ruhya.”

                “Itu sudah menjadi pekerjaanku. Yuji, bolehkah aku berbicara sebentar denganmu?”

                “Boleh. Bicara apa?”

Aku berjalan menuju tempat yang tak terlalu ramai, di sisi gedung. Ingin rasanya aku berbicara kalau aku masih menyayanginya dan aku masih menunggunya untuk kembali merangkul bahagia yang seharusnya ku genggam. Tapi bibirku terasa beku, aku tak mampu mengatakan semua kejujuran itu. Dan keluarlah perkataan yang sama sekali bukan kejujuranku.

                “Selamat menempuh hidup baru bersama Ruhya. Semoga berbahagia selalu.”

                “Hanya itu yang ingin kamu katakan? Aku pikir ada yang lebih penting.”

                “Ya, hanya itu.”

Aku pun meninggalkan Yuji. Dan kembali menikmati hidangan di pesta ini. Yuji menghampiri istrinya, Ruhya. Mereka bergandengan menghampiri para tamu undangan. Yuji sempat menoleh kepadaku, ia tersenyum. Ah, senyuman itu, tak pernah berubah dan luntur pun enggan mendekati senyum itu.

Dalam hati, aku berdoa, mungkin ini doa terjahat yang pernah ku serahkan kepadamu, Tuhan.

“Tuhan, maafkan aku, aku masih belum rela, aku masih belum melepasnya. Cinta ini terlalu dalam, tolong jangan buat mereka bahagia selamanya."

Senin, 01 Oktober 2012

Lembar Senja


“Salah gak kalo aku cemburu melihat dia sama pacar barunya?”

Berkali-kali aku ucapkan sepatah kalimat itu. Pentingkah? Haruskah? Dan mengapakah aku harus terus menerus cemburu kepadanya? Kepadanya, seseorang yang telah membuat orang yang kusayangi terbalut kebahagiaan disana. Tapi siapa yang kuat menanggung perasaan yang menyesakkan dada ini? Kalaupun bisa, aku lebih memilih untuk tak meneruskan perasaan sayang yang enggan untuk berhenti ini.

“Percuma, Kania. Percuma kamu terus-terusan nangis melihat sama Vikar pacar barunya, percuma dan nggak ada gunanya! Sadar!” bentak Asya yang kesal karena Kania terus menerus menangis melihat Vikar tengah berbahagia bersama kekasih barunya.

“Tapi, Sya, aku sayang banget sama dia. Kamu tau itu kan? Dua tahun bukan waktu yang sebentar, Sya..” Kania terisak.

“Ya terus  mau sampai kapan kamu terus-terusan kayak gini? Buat apa coba nangisin orang yang udah bahagia sama orang yang lainnya, buang-buang waktu aja. Masih banyak yang lebih baik, masih banyak yang lebih dan lebih dari dia, Kan! Sadar!”

“Aku  sadar, Sya. Sadar banget, bahkan aku sadar kalau aku benar-benar sayang sama dia..”
***
Hubungan ini memang telah usai. Semuanya telah berakhir, rasanya aku masih ingat saat-saat aku masih mampu merangkul rindunya, saat tangannya masih mampu ku sentuh. Ya, saat itu, dua tahun yang lalu, dan masih sangat melekat di memoriku. Aku tak mampu melupakan semua kenangan indah itu, entah kenapa, mungkin semuanya terlalu indah untuk diasingkan.

Kini, aku masih merindukannya. Aku masih menyayanginya, bahkan aku masih mengharapkannya. Walau aku tau semua itu tak pernah ada lagi di benaknya. Biarlah aku sendiri menyusun kepingan rindu yang tersisa. Rinduku sendiri..

“Mereka masih pacaran?” tanyaku kepada Asya.

“Mereka? Siapa?”

“Vikar dan Maria. Siapa lagi pasangan yang selalu membuatku iri selain mereka?” jawabku ketus.

“Oh, mereka. Kamu masih perhatiin mereka ya?”

“Tiap hari, mereka tak pernah luput dari pandanganku, Sya.”

“Jangan memaksakan, Kan. Aku tau kamu tersiksa dengan semua pandanganmu itu.”

“Bohong jika aku tak tersiksa. Tapi mau gimana lagi, Sya? Mereka selalu berdua kemanapun.”

“Sudahlah. Sekarang, lupain Vikar. Jangan terpaku di masa lalu, masa depan kamu sudah melambai-lambai, loh.”

“Tapi apa aku mampu melupakan Vikar, Sya?”

“Yakinlah. Rencana Tuhan selalu indah, Kan. Aku selalu ada di sini buat kamu, sahabatku.”

Aku dan Asya berpelukan. Aku meneteskan air mata, aku merasa telah menjadi seseorang yang bodoh, kenapa aku baru sadar kalau ternyata sahabat itu lebih dari apapun? Kenapa aku baru sadar mempunyai sosok sahabat yang selalu mengerti semua tentangku? Terimakasih sahabatku, Asya...
***
Kenapa cemburu itu masih hadir? Jawabannya singkat, karena aku masih belum mampu melepas semua tentangnya. Aku berusaha melawan rasa cemburu itu, tapi ternyata aku tak mampu. Aku masih ingat detik-detik menjelang kata “putus” itu terjadi, dan itu cukup menyesakkan batinku. Bukannya aku tak mau mempertahankan, tapi pernyataannya yang teramat jujur membuatku sesak.

“Aku sudah menyayangi yang lain, Kan.”

Mendengar itu, hatiku seperti merasakan petir yang menggema. Sakit dan menyakitkan. Kenapa ia begitu jujur? Teramat jujur, lebih tepatnya. Aku masih diam, sementara Vikar masih melanjutkan perkataannya.

“Maaf, aku nggak bermaksud membuat hatimu sakit. Aku cuma mau jujur, Kan. Aku gak mau menjalani semuanya sedangkan sayangku untukmu semakin hari semakin menipis.”

Aku masih diam, terpaku mendengar perkataannya yang begitu menusuk. Aku tak tahu harus melakukan apa saat ini, bahkan menangis pun aku tak mampu. Ya, rasanya air mataku enggan menetes.

“Siapa wanita beruntung itu, Kar?” tanyaku.

“Wanita itu, Maria, Kan.” jawabnya singkat.

Aku terdiam untuk yang ketiga kalinya. Aku benar-benar tak menyangka kalau ternyata wanita beruntung yang mampu membuat Vikar melepasku adalah Maria, teman sepermainanku. Kali ini air mataku mulai mengembang, perlahan menetes. Ya, rasanya ini tak mungkin, tapi Vikar telah mengutarakan isi hatinya se-jujur-jujurnya. Dan aku baru menemukan lelaki seperti Vikar, tanpa rasa bersalah ia memutuskanku dan menyayangi orang lain yang tidak lain dan tidak bukan adalah teman sepermainanku.

“Beruntungnya dia. Selamat, semoga ia akan merasakan kebahagiaan yang seharusnya ia dapatkan 
dari kamu.” kataku singkat, lalu berlalu meninggalkan Vikar.

Vikar masih terdiam. Aku berharap ia memelukku dan bilang kalau semua perkataannya tadi itu hanya lelucon. Aku berjalan gontai menyelusuri senja yang tak bertepi.

“Kania...!?”

Vikar memanggil namaku. Ya, Tuhan, apa harapanku tadi akan terwujud. Ah, aku sangat berharap. Aku berhenti kemudian menoleh, Vikar setengah berlari menghampiriku. Ia menggenggam tanganku, lalu mencium keningku. Ah, Tuhan, bolehkah aku mohon hentikan senja ini?

“Terimakasih untuk dua tahun ini, Kan. Kamu wanita hebat.” katanya dengan mata yang sedikit basah, aku tahu, ia habis menangis.

“Terimakasih untuk apa? Aku nggak pernah memberikan kamu apa-apa, Kar.” jawabku sambil menahan tangis.

“Kamu udah kasih aku semua ketulusan dan kamu yang pertama memberikan semua itu, Kan. Kamu 
udah mengajarkan aku banyak hal, mengerti dan percaya.” lanjutnya.

Aku tak menyangka kejadian menyesakkan tadi akan menjadi seharu ini.

“Itu sudah kewajibanku, aku bukan wanita hebat, Kar. Kalau aku wanita hebat, kamu tak akan berpaling ke lain hati.”

“Maaf.” katanya sendu.

“Tak apa. Aku pergi ya, bahagiakan Maria.”

Aku segera memalingkan mukaku dan berjalan menjauh darinya, mantan kekasihku, Vikar. Dan kini, semuanya telah usai. Lembaran kasih selama dua tahun ini telah berakhir dan tak ada lagi lembaran untuk halaman selanjutnya. Menyesakkan memang, tapi aku mencoba lebih dewasa menghadapi semuanya. Mana mungkin aku harus terhenti hanya karena sebuah masalah semu yaitu ‘CINTA’ ?
***
Sedikit aku sudah melupakannya. Hanya saja aku benci dengan cemburu yang masih terus hadir, aku benci melihatnya bahagia. Padahal, dulu, aku yang meminta Vikar untuk membahagiakan Maria. Ah, betapa tegarnya aku saat itu..

Dan kini, Vikar benar-benar sudah membahagiakan Maria dan aku rasa itu memang sudah seharusnya. Dan sudah seharusnya pula aku merasakan kebahagiaan mereka. Huh, rasanya perlu banyak ‘tapi’ untuk menjawab keharusan itu.

Nasihat dari Asya sangat membantuku untuk melupakan semua tentang Vikar, tapi tunggu, apa harus melupakan? Kalau begitu, untuk apa tercipta lembaran kenangan kalau akhirnya terlupakan?
Aku pernah sesekali berpura-pura sudah membuang semua tentang Vikar, tapi sayang, aku tak mahir berlama-lama dalam ke-pura-puraan. Asya menemukan foto-foto Vikar yang masih tersusun rapi di laci kamarku, aku memang tak berniat membuang semuanya. Lebih baik aku susun rapi di laci, mungkin sesekali ku tengok, ketika rindu menyapa.

“Masih belum bisa melupakan Vikar, Kan?” tanya Asya ketika menemukan foto-foto Vikar di laci kamarku.

            “Sebentar lagi.” jawabku singkat dan bukan jawaban dari hatiku.
***
Mereka semakin bahagia dan aku masih berusaha melupakan.

Dari kejauhan ku perhatikan, dua bongkah senyum merekah penuh cinta. Tak nampak kesedihan di sisi mereka. Karena semua kesedihan kini bersembunyi di mataku. Mungkin Vikar mudah membuang dan memutuskanku. Mungkin Vikar terlalu sulit ku lupakan. Dan mungkin aku terlalu berharap untuk selalu bersamanya.

Di pojok senja, aku terdiam, memandang jendela, memandang matahari yang lambat laun tenggelam. Aku berusaha memaknai perpisahan kisah ini. Mungkin Vikar sudah menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya dan kebahagiaan itu ada di diri Maria. Biarlah mereka bahagia, tak perlu ku campur tangan. Aku harus benar-benar bangkit dan lepas dari semua jeratan menyesakkan ini, ya, apalagi kalau bukan jeratan rindu?

“Vikar, rindu ini menyiksa. Terlebih lembar halaman tentangmu, tentangku, tentang kita yang masih kosong.”

“Senja, biarkan lembaran kosong ini tetap kosong.” bisikku kepada senja.









Penulis : Rizki Kusuma Wardani

Minggu, 23 September 2012

Wosh, Iwes dan Lenez


Aku mampu melihatnya. Melihatnya yang tak dapat dilihat mereka. Apa yang terjadi pada diriku? Kenapa aku berbeda? Kenapa aku tak seperti yang lainnya?

Perlahan hembusan angin menerobos masuk, ya itu mereka, mereka datang. Sahabat kecilku sejak aku tinggal di rumah ini. Kenalkan si sulung, aku biasa memanggilnya Wosh, lalu yang kedua bernama Iwes, ya dia seorang wanita, dan yang terakhir si bungsu bernama Lenez. Iwes satu-satunya wanita diapit kedua lelaki. Wosh memiliki sifat yang mengerikan, ia akan sangat marah jika ada yang menjahati makhluk-makhluk yang ia sayangi, tapi Wosh termasuk orang yang sangat adil, mungkin karena Wosh adalah yang paling tua diantara yang lainnya. Sedangkan Iwes memiliki sifat yang sangat lembut, mungkin karena Iwes adalah wanita. Lalu yang terakhir, Lenez. Lenez adalah sosok lelaki yang sangat tampan, tapi sebagian wajahnya hancur.

Sudah hampir 3 tahun aku bersahabat dengan mereka. Dan aku sudah hafal semua sifat-sifat mereka, rasanya sama seperti bersahabat dengan makhluk nyata lainnya. Tak ada yang berbeda, hanya terkadang memang agak sulit untuk menyentuhnya. Tapi itu tak menjadi masalah, aku masih mampu tertawa bersama mereka. Hanya sampai sekarang hanya Iwes yang masih sulit untuk tertawa, ia sulit untuk tertawa lepas seperti kedua saudaranya yang lain.

Dan aku pun tau kenapa Iwes seperti itu, ia sedih, sepotong tangan kirinya hilang entah kemana. Ketika aku bertanya dimana tangan kirinya, ia hanya menjawab “air dan batu.” Aku benar-benar bingung, sementara itu Wosh dan Lenez yang sudah menganggap Iwes saudara kandung mereka pun sama sekali tak tau masalah tangan kiri Iwes yang hilang.

***
                “Bantu aku, Sel!” seru Iwes disuatu malam.

                “Apa yang harus ku bantu?”

                “Aku ingin tanganku kembali. Hanya itu.”

                “Bagaimana caranya, Wes?”

                “Datangi rumah kejam itu, Sel. Ada tanganku disana, disamping kolam dekat batu besar.”

                “Kamu tau dimana tanganmu? Kenapa kamu gak coba ambil sendiri?”

                “Aku tak bisa sendiri. Mereka semua manusia-manusia kejam, aku takut, Sel.”

                “Apa yang harus ku lakukan? Dimana rumah itu, Wes?”

                “Di ujung jalan dekat bukit Kuning. Wosh dan Lenez tau dimana letak rumah itu.”

                “Baiklah. Aku akan kesana besok bersama Wosh dan Lenez.”

                “Berhati-hatilah, Sel. Disana setiap harinya selalu ada pembunuhan wanita.”

Aku tersentak. Bagaimana ini? Apa aku mampu membantu Iwes mengambil kembali tangan Iwes? Tuhan, bantu dan lindungi aku. Aku tak ingin melihat sahabatku terus menerus bersedih seperti ini.
Aku keluar rumah dan mencari dimana Wosh dan Lenez, sementara itu Iwes tengah duduk diam di kamarku. Dari kejauhan, aku melihat Wosh dan Lenez sedang berbincang, aku mendekati mereka.

             “Sedang apa kalian?” tanyaku lalu duduk disamping Lenez.

            “Aku sedang membuat strategi untuk mengambil kembali tangan Iwes di rumah tua itu.”
                jawab Lenez.

“Baru saja aku mau memberitahu kalian tentang ini, ternyata kalian sudah mengatur strategi.”
  
“Aku tak ingin melihat gadis itu terus menerus bersedih.” kata Wosh.

“Lalu bagaimana selanjutnya?”

“Rumah itu sangat menyeramkan. Tak ada wanita yang berani mendekat ke rumah itu. Siapapun            wanita yang berani mendekat kesana, akan habis, Iwes salah satu korbannya.” Lenez bercerita.

“Aku tak gentar! Aku mau membantu Iwes.” Jawabku.

“Kamu yakin, Sela?” tanya Wosh.

“Sangat yakin, Wosh.”

“Baiklah kalau begitu besok malam kita kesana.”

Keesokan malamnya, aku, Wosh dan Lenez bersiap-siap mengatur strategi untuk mendatangi rumah menyeramkan itu. Sementara Iwes masih tersedu di kamarku, ia masih sangat berharap tangannya bisa kembali dan ia bisa seperti kawan-kawannya yang lain. Tenang sobat, aku akan membantumu, semampuku dan aku akan bawa pulang tanganmu.

Dengan tergesa-gesa aku membawa panci yang biasa dipakai Ibu untuk memasak, lalu ku sangkutkan garpu beserta pisau dilenganku.

                “Bagaimana? Sudah cukupkah peralatanku?” dengan bangga aku memamerkan alat-alat itu.

                “Astaga, Selaaa. Kamu ini mau membuat sup?” tanya Wosh dengan muka sedikit kesal.

                “Kenapa, Wosh? Kita butuh peralatan untuk masuk ke rumah seram itu, kan?”

                “Ya, tapi gak seharusnya kamu membawa semua peralatan dapur ini, ini gak akan membantu
                sama sekali.”

                “Benarkah? Lalu apa yang harus aku bawa?” tanyaku kepada Wosh sambil meletakkan
                semua peralatan dapur itu di lantai.

                “Pakai ini.” Wosh menyerahkan sebuah tongkat berwarna merah yang warnanya sedikit
                menyilaukan mataku.

                “Ini? Apa gunanya tongkat ini?” tanyaku bingung.

                “Ini akan membantumu jika nanti manusia-manusia kejam itu mendekatimu.”

Si tampan Lenez, sedang sibuk berkutat dengan bola-bola kecil berwarna hitam yang aku sendiri tak tahu apa itu. Semua peralatan sudah siap, pukul 01:00 dini hari, aku, Wosh dan Lenez berangkat menuju rumah menyeramkan itu. Ya, semoga semuanya berjalan sesuai rencana. Aku mengambil sepatu rodaku, karena Wosh dan Lenez nantinya akan terbang, jadi supaya aku tak tertinggal, aku memakai sepatu roda kesayanganku ini.

***
Kita berhenti diatas bukit kuning, aku melihat ada sebuah rumah tua di ujung jalan.  Aku hanya melihat tak banyak cahaya di dalam rumah itu, memang tampak menyeramkan. Aku mengambil teropong yang ku taruh di dalam tasku, ku arahkan ke arah rumah itu. Di samping rumah itu terdapat sebuah kolam besar dan ada banyak batu disana, betul apa yang dibilang Iwes.

                “Nampak menyeramkan untuk manusia awam.” celetuk Wosh ketika aku sedang
                memperhatikan rumah itu.

                “Memang.”

                “Lalu? Apa kamu benar-benar berani, Sel?” tanya Lenez.

                “Ya! Aku tak gentar, semuanya demi Iwes, sahabatku, sahabat kita!”  jawabku dengan penuh
                semangat.

                “Baiklah. Nanti aku lebih dulu masuk dan mencari dimana letak manusia kejam itu. Aku akan
                membuat mereka ketakutan. Setelah itu, kamu dan Wosh segera mengambil tangan Iwes di
                antara bebatuan dekat kolam itu.” jelas Lenez.

Aku dan Wosh mengangguk, sementara aku melepas sepatu rodaku dan memasukkannya ke tas. Sedangkan Lenez sudah terbang menuju rumah itu. Aku jalan pelan-pelan dan Wosh berjaga-jaga di belakangku. Aku semakin dekat dengan rumah menyeramkan itu. Entah kenapa, bulu kudukku berdiri ketika aku sampai di depan rumah ini. Astaga, banyak nyawa melayang di rumah ini. Dan mereka semua menangis. Aku mampu merasakannya. Wosh menyuruhku untuk masuk lewat pintu belakang, ya ku kira ia memang tahu lebih dalam seluk beluk rumah ini. Aku mengikutinya.

Aku mendengar suara teriakan dari dalam rumah. Ya, aku yakin orang-orang jahat itu pasti ketakutan melihat wajah Lenez yang hancur. Aku dan Wosh mencari-cari ke batu yang satu ke yang lainnya. Dimana tangan itu? Aku tak menemukannya, aku sempat putus asa. Aku duduk dibalik batu yang lumayan besar. Sementara Wosh masih mencari tangan Iwes. Beberapa saat kemudian, Wosh datang dan membawa tangan kiri Iwes.  Ah, betapa senangnya aku.

                “Selaaa, lihatlah aku membawa tangan kiri Iwes.” serunya sambil menenteng tangan kiri
                Iwes.

                “Ah, syukurlah, Wosh. Aku sudah hampir putus asa.”

                “Sini, biar tangan Iwes aku taruh di tasku.”

                “Jangan, biarkan aku saja yang pegang. Nanti tasmu bau darah, Sel.”

                “Hmm, baiklah. Lalu dimana Lenez?”

                “Lenez sudah menunggu kita di depan gerbang. Cepat kita kesana, sebelum manusia kejam
                itu datang dan membunuhmu.”

Aku mengeluarkan lagi sepatu rodaku, dan dengan sekuat tenaga aku berlari sementara Wosh terbang, di belakangku.  Aku dan Wosh berhasil keluar dari rumah menyeramkan ini. Lenez sudah menunggu aku dan Wosh.

                “Bagaimana? Adakah tangan Iwes diantara batu-batu itu?” tanya Lenez.

                “Aku dapat tangan Iwes, Len.” seru Wosh sambil memperlihatkan tangan Iwes yang dia
                pegangi daritadi.

                “Syukurlah. Ah, aku sudah membayangkan betapa bahagianya Iwes.”

Aku, Wosh dan Lenez pun pulang. Huh, malam yang sangat melelahkan. Dari atas bukit kuning, aku menoleh ke arah rumah itu. Wosh dan Lenez berhenti.

                “Kenapa berhenti dan terus memandang ke rumah itu, Sel?” tanya Lenez.

                “Disana banyak kesedihan, Len. Aku mampu merasakannya.”

Wosh mendekat.

                “Mereka semua menangis, Len. Mereka semua tersiksa. Arwah mereka tak tenang, tapi
                kenapa manusia-manusia itu tak pernah merasa menyesal sedikitpun?” air mataku perlahan
                menetes.

                “Suatu saat nanti akan ada balasan untuk manusia-manusia itu, Sel.” sahut Wosh.

                “Betul. Akan ada saatnya mereka marah dan membalas semua dendamnya. Janganlah
                kamu teteskan air matamu, Sel. Aku tak mau melihatmu menangis.” tambah Lenez.

Aku menghapus tetesan air mataku dan berharap suatu saat nanti akan ada azab untuk manusia-manusia jahat itu. Aku berjalan dengan santai menggunakan sepatu rodaku dan perlahan menjauh dari bukit kuning. Tak terasa aku sudah tiba di depan rumahku dan segera masuk menuju kamarku. Ku lihat Iwes masih duduk dengan sendu, ia menoleh ke arahku, Wosh dan Lenez.

                “Bagaimana tanganku? Apa masih ada disana?” tanyanya penuh harap.

Wosh memperlihatkan apa yang ada ditangannya. Dan raut wajah Iwes pun berubah, ia tampak bahagia melihat tangan kirinya.

                “Terimakasih kawan. Berkat kalian aku mampu lagi bertemu dengan tangan kiriku.”
                kata Iwes dengan muka yang sangat bahagia.

                “Ini sudah kewajiban kita semua, Wes. Kita gak mau kamu sedih berlarut-larut.” Jawab
                Wosh sambil merangkul Iwes.

Wosh, Iwes dan Lenez saling berpelukan. Ingin rasanya ikut memeluk mereka, tapi aku tak mampu. Aku hanya mampu tersenyum dan tertawa bersama mereka.

Kini, sejak tangan kirinya kembali, Iwes tak pernah sedih lagi. Ia selalu gembira dan senyum tak pernah lepas dari wajahnya. Dan kami semua bermain bersama, dan inilah kehidupanku, bersama mereka. Ketiga sahabatku yang tak nyata.

Rabu, 05 September 2012

Kedua


Derap langkah kakinya semakin menjauh. Aku tak tau mengapa, padahal yang ku tau dia cinta aku, begitu juga aku. Ah, apakah cinta selalu meninggalkan? Aku masih berdiam mematung, berharap ia akan berbalik menghampiriku. Apakah cinta selalu berharap?

Aku baik-baik saja, dulu. Sekarang? Tanpa perlu ku jawab, seharusnya kamu sudah tau bagaimana keadaanku. Aku tegar dalam kelemahanku. Aku rindu genggamanmu.  Aku lelah menjadikan “cinta tak harus memiliki” sebagai alasan ketegaranku sekarang. Aku ingin memilikimu seutuhnya, tak seperti sekarang, aku terbagi.

                “Bagaimana selanjutnya, Diz? Sampai kapan kita bersembunyi-sembunyi seperti ini?”

                “Aku gak tau.”

                “Kenapa gak tau sayang? Kamu udah janji akan mutusin dia demi aku, kan?”

                “Iya, tapi aku gak tau kapan, sayang.”

                “Aku butuh kepastian, aku capek. Kamu sadar ga? Udah hampir 1 tahun kita seperti ini.”

                “Iya, aku tau. Sabar ya. Aku lagi cari waktu yang tepat.”

                “Sampai kapan aku harus bersabar?”

Obrolan antara aku dengan Dizki, sebulan yang lalu. Itu yang pertama dan yang terakhir, enggan rasanya aku menanyakan pertanyaan seperti itu lagi. Sesak rasanya ketika harus mendengar jawaban yang sama seperti itu lagi. Huh, aku tak tau sampai kapan akan seperti ini. Aku hanya tau, aku belum memilikinya dan akan terus seperti ini.

***
 
Tuhan, beginikah rasanya mencintai bahkan menjalin kasih dengan kekasih orang lain? Kenapa menyakitkan? Padahal aku tak merasakan sakit ini diawal. Bulan mencoba menghiburku tapi aku sama sekali tak terhibur olehnya, maaf.

Andai  semuanya tak terjadi sejauh ini, tapi semuanya terlambat. Ah, kenapa aku harus menerima cintanya? Padahal aku tau saat itu ia tak sendiri. Kenapa aku menyayanginya yang telah disayangi wanita lain? Menyesal...

                “Aku sayang kamu, Ta.”

                “Tapi kekasihmu lebih menyayangi kamu.”

                Dengan lekat, ia menatapku, “aku mau kamu menyayangi aku lebih dari kekasihku.”

                “Gak bisa, Diz.”  Aku memalingkan wajahku dari matanya.

                “Kenapa gak bisa? Apa yang gak bisa? Semuanya bisa. Aku tau kita saling sayang.”

                “Apakah saling sayang harus memiliki? Walau kondisinya seperti ini?”

                “Yang aku tau, cinta tak perlu banyak alasan.”

Ia langsung meraih tanganku, digenggamnya, lalu diciumnya. Ah, aku benar-benar jatuh. Aku memang menyayanginya, tapi salahkah aku jika nyatanya lelaki yang kusayangi adalah kekasih sahabatku?

***

Aku mengiyakan ajakannya untuk menjalin kasih. Walau aku tau, kini aku menjadi yang kedua. Tapi ini tak terlalu menjadi masalah, aku hanya mementingkan aku menyayanginya dan diapun begitu.

Tak bisa dipungkiri, menjadi seseorang yang kedua itu sangat menyesakkan. Berkali-kali aku tetap diam dan terpaksa tersenyum menyaksikan kebahagiaan Dizki dengan kekasihnya Silvi. Dizki terlihat sangat menyayangi Silvi, tapi Dizki bilang rasa sayangnya untukku lebih besar dibanding sayangnya kepada Silvi. Entah siapa yang benar yang jelas aku percaya akan semua perkataan Dizki. Bodoh ya?
Tapi aku tak sebodoh yang kalian pikir. Aku yakin banyak dari kalian yang berpikir bagaimana mungkin aku mau diduakan secara terang-terangan seperti ini? Tapi aku punya alasan, aku mungkin bodoh, tapi alasanku tak sebodoh diriku.

                “Aku bodoh ya?”

                “Bodoh? Kamu kok ngomong gitu, sayang?”

                “Jelas. Siapa wanita yang mau diduakan selain aku?”

                “Tolong jangan bahas itu.”

                “Kenapa?”

                “Aku gak mau bahas itu lagi sekarang.”

                “Kamu selalu mengelak. Apa ini yang kamu bilang sayang?”

                “Yang penting aku sayang kamu dan kamu sayang aku.”

Kesalahan terbesarku, mencintai kekasih sahabatku. Maafkan aku, Silvi. Aku juga tak berharap sayang ini tumbuh untuk Dizki, kekasihmu.

***

Hubungan diam-diam ini masih tersembunyi. Tak ada siapapun yang tau, hanya aku, Dizki dan Tuhan yang tau semuanya. Aku masih sanggup menahan rasa cemburu yang sering membakar hatiku, aku masih sanggup menunggu, menunggunya menjadi milikku, seutuhnya, satu-satunya.

Dulu, ia pernah berjanji akan segera memutuskan Silvi, demi aku. Tapi nampaknya janji itu kian lama memudar. Tak terlihat lagi pucuk janji itu. Aku harus bagaimana? Bersabar? Lebih lama lagi? Lebih sakit lagi? Ya, Tuhan, sungguh ini sakit. Andai aku tak menerimanya dulu, pasti semuanya tak akan sesakit ini.

Tapi ya, sudahlah, semuanya sudah terjadi. Ia pun sudah pergi, aku tak berharap ia kembali, walau aku masih merindukannya.  

                “Aku gak bisa mutusin Silvi, Ta.” Katanya sendu diantara matahari yang perlahan terbenam.

                “Aku tau itu.”

                “Kamu tau? Sejak kapan? Kalau begitu kenapa kamu menerimaku, Ta?” ia memandangku
                serius.

                “Sejak lama. Aku nerima kamu dulu karena aku benar-benar sayang dan ingin 
                 memilikimu.”

                “Walau kamu tau kamu gak akan milikin aku?”

                Aku mengangguk. Senja seakan memaksaku untuk menangis.

                “Kamu jangan nangis, Ta. Aku bukan lelaki yang pantas untuk kamu tangisi.”

                “Gak pantas? Buktinya apa sekarang? Kamu sangat pantas untuk aku tangisi.”

                “Ta, aku memang sayang kamu. Tapi Silvi, dia lebih butuh aku dan aku gak bisa....”

                “Udahlah, Diz. Gak usah beralasan terus, aku udah tau semua tanpa perlu mendengar
                 alasan-alasan kamu.”

               “Maaf, Ta.”

                “Aku selalu memaafkan orang-orang yang sangat kusayangi, Diz. Termasuk kamu.”

                “Kamu tegar, Ta.”

                “Wanita harus tegar. Menyayangi seseorang yang sudah menyayangi lainnya, nampaknya                 membuatku lebih tegar. Terima kasih, Dizki.”

                “Maafkan aku untuk semua kesalahanku ini, Ta.”

                “Gak ada yang salah.”

                “Baiklah. Aku pergi sekarang.Semoga akan ada yang lebih baik dari aku diluar sana.”

                “Pasti, ada banyak yang lebih dari kamu.”

Punggungnya semakin jauh. Aku masih tetap tegar dengan air mata yang perlahan menetes. Mungkin setelah dari sini, ia akan mengunjungi Silvi, kekasihnya. Sedangkan aku? Aku hanya tau besok adalah hari baru dan aku harus belajar dari hari ini.

Dizki, terima kasih untuk kebohonganmu selama hampir 1 tahun ini.

Semoga sahabatku akan lebih memberikan kebahagiaan yang tak pantas kuberikan untukmu. 

Selasa, 28 Agustus 2012

Cinta Pangeran Kupu-Kupu


                 Aku mencintainya,pangeran kupu-kupu  itu. Hanya ia yang sedari dulu tinggal di hati kecil ini. Tapi kini aku tak lagi menemukannya. Dulu kami tinggal bersama, di dahan  pohon itu. Kami selalu bersama sejak kami berdua masih menjadi ulat. Ah, aku ingat saat pertama kali mengaguminya.  Ia menggeliat-menggeliat, menampakkan kulitnya yang indah. Bewarna kekuningan emas disisipi warna hijau muda yang begitu mengkilau. Sangat indah, dan aku sangat yakin jika nanti pada saatnya ia menjadi kupu-kupu, ia akan menjadi kupu-kupu yang sangat tampan dan benar saja setelah ia terlebih dulu menetas dari kepompong, kini ia menjadi seekor kupu-kupu yang sangat indah. Karena kepakan sayapnya yang indah itu pula-lah ia dijuluki “Pangeran Kupu-Kupu” . Beberapa jam setelah ia menetas dari kepompongnya, aku pun ikut menetas. Tapi sayang, aku tak terlahir sebagai kupu-kupu yang indah. Sayapku tak seindah sayap pangeran kupu-kupu. Ya, pangeran pun lupa bahwa ia pernah berkata ia akan menyayangiku, hingga nanti kematian-lah yang memisahkan cinta ini.
                
               Hai, namaku Butterliza. Mereka biasa memanggilku Liza. Aku hanya seekor kupu-kupu yang memiliki paras tak begitu indah. Tak seperti kupu-kupu kebanyakan. Aku terlahir disebuah dahan pohon yang ku tau pohon itu sudah tua karena akarnya pun sudah menjalar kemana-mana. Dan pohon itu masih setia menjadi tempat tinggalku, sampai sekarang. Kalian tau? Menjadi kupu-kupu sepertiku tak terlalu menyenangkan. Aku tak bisa bermain bebas disini, aku tak bisa terbang bebas diatas sana. Karena apa? Aku malu, aku malu akan parasku yang berbeda dengan kupu-kupu yang lainnya. Ya, aku hanya memiliki dua buah sayap berwarna hitam diselingi kuning yang tak terlalu menarik. Wajar banyak yang tak ingin berteman denganku. Dan aku hanya mampu tinggal sendiri didalam pohon ini. Di pohon ini terdapat sebuah lubang, dan lubang ini kujadikan tempat untukku tinggal. Sendiri, padahal kawan-kawanku yang lain berpasang-pasangan. Ya, aku malang, sangat malang.
               
                 Aku ingin sekali menyapanya. Menyapanya yang dulu pernah menjadi bahagiaku. Kita pernah bersama-sama menghabiskan pucuk daun teh yang nikmat itu. Ya, aku dan dia, dia yang kini menjadi pangeran kupu-kupu. Ah, entah ia masih mengingatku atau tidak. Tapi yang kutau kini ia telah hidup mapan di kerajaan kupu-kupu-nya. Dan mungkin ia tak akan ingat bahwa dulu kami pernah menjadi kepompong bersama di pohon ini.
                
              “Perhatian kepada seluruh rakyat kupu-kupu untuk berkumpul di lapangan samping     istana.”

Terdengar suara pengawal kerajaan mengumumkan berita melalui speaker yang dibuat menggunakan daun yang dibuat sedemikian rupa. Mendengar itu seluruh rakyat kupu-kupu keluar dari rumahnya dan segera terbang menuju lapangan yang terdapat disamping istana. Begitu pula aku. Perlahan lapangan yang tadinya kosong, kini telah dipenuhi oleh ribuan kupu-kupu. Dan aku berdiri di barisan paling depan. Aku melihat pangeran kupu-kupu berjalan didampingi pengawal kerajaannya menaiki panggung. Ah sayap itu... Lebih dari indah.
                
                  Semua mata tertuju kepadanya. Aku yakin semuanya tak akan percaya bila tau aku pernah bahagia berdua pangeran itu. Aku masih tetap memandangi pangeran itu, memandangi sayap indahnya. Sayap yang menjadi idola dari setiap kupu-kupu. Ingin rasanya aku membelai lagi pipi sang pangeran yang kini hanya tinggal angan bagiku.
                
            “Selamat siang semua rakyatku. Saya mengumpulkan kalian disini ingin memberitakan sebuah berita penting.  Minggu depan akan diadakan sayembara untuk menjadi putri di kerajaan ini. Dan putri itu akan menjadi istriku nantinya. Jadi siapapun kupu-kupu wanita, boleh mengikuti sayembara ini. Cukup sekian dan terima kasih akan perhatiannya.”

Ya, pangeran pun menuruni panggung dikawal pengawalnya. Kupu-kupu wanita yang ada disebelahku langsung berbicara dengan semangatnya, satu sama lain.

“Aku harus jadi istri pangeran!” sahut kupu-kupu wanita yang tinggal dipohon yang sama denganku tapi ia tinggal dibagian bawah.
           
           “Tidak! Aku yang akan menjadi penerus kerajaan ini.” sahut yang lainnya.
              
           “Huh, tentu saja aku. Lihatlah parasku sangat cantik dan pangeran pasti jatuh hati.” Sahut kupu-kupu wanita yang ku tau bernama Flywings. Ia biasa dipanggil wings oleh kawan-kawannya. Ia dijuluki sebagai kupu-kupu cantik, ia memiliki sayap yang sangat indah. Berwarna merah muda beserta warna putih yang sangat bersih. Jujur, aku iri pada kepakan sayapnya yang indah. Dan aku yakin pangeran akan jatuh kepadanya. Pupuslah sudah harapanku...
***
Seminggu kemudian....

Wings bersama kawan-kawannya bersolek didepan cermin. Mereka menggunakan baju pesta yang sangat indah, aku memandangi mereka dari balik jendela rumahku. Semua kupu-kupu wanita berusaha berpenampilan sebaik mungkin untuk menarik perhatian pangeran. Ya, mereka semua sangat cantik. Berbeda denganku. Aku hanya duduk dibalik jendela memperhatikan mereka semua. Aku tak berniat untuk hadir dalam sayembara itu. Karena aku tau semua itu hanya akan menjadi kesia-siaan saja. Jadi lebih baik aku disini dan mendengarkan sayup-sayup meriahnya di istana. 
                
              Pukul 10 pagi, semua kupu-kupu wanita keluar dari rumah masing-masing dan segera terbang menuju istana. Aku memandang semuanya dengan penuh rasa iri dan perlahan air mataku menetes.  Aku sedih aku tak dapat hadir ke pesta sayembara itu. Ya, mau bagaimana lagi? Aku tak punya gaun-gaun indah seperti yang mereka kenakan. Ah, sudahlah biarkanlah pangeran menemukan cinta sejatinya. Dan aku harus menerima jikalau bukan aku cinta sejatinya...
               
              Terdengar suara kemeriahan pemain musik istana memainkan alunan musik yang sangat indah. Dari jendela aku juga mampu menyaksikan balon-balon berwarna putih diterbangkan ke udara. Semuanya pasti berbahagia disana, dan aku bingung harus ikut bahagia atau....
***
Sementara itu di istana...

“Pengawal, semua kupu-kupu wanita sudah ku perhatikan. Tapi aku tak menemukan sosok wanita yang mampu membuatku jatuh hati. Bagaimana ini? Apakah semua wanita sudah berkumpul disini?” tanya pangeran.
                
            “Semua wanita sudah berkumpul disini, wahai pangeran.” jawab pangeran lembut.
        
            “Coba temui aku dengan kupu-kupu tercantik di wilayah ini.” perintah pangeran kepada
              pengawalnya.

Pengawalnya pun membawa pangeran menuju Wings. Kupu-kupu yang memiliki sayap paling indah. Alangkah senangnya Wings ketika dihampiri sang pangeran. Ia pun langsung berjalan layaknya model iklan yang sedang naik daun. Sayapnya telah dihias dengan manik-manik bewarna keemasan, sangat sempurna. Pangeran memperhatikan Wings, tapi kenapa tak ada getaran cinta yang ia rasakan. Pangeran merasakan ada seekor kupu-kupu wanita lagi yang belum hadir, tapi siapa?

“Pengawal, keluarkan kereta kencanaku. Marilah kita berkeliling wilayah sini, aku masih ragu bahwa semua kupu-kupu wanita sudah hadir disini.”  perintah pangeran.
             
             “Lalu bagaimana dengan pesta sayembara ini, pangeran?”
      
            “Halah, sudahlah. Biarkan pesta ini berjalan seperti ini, biarkan mereka menikmati semua
              yang ada disini. Cepat turuti saja perintahku!”
              
            “Baik pangeran.”  pengawal segera pergi mengeluarkan kereta kencana dan menuruti
              perintah pangeran.

Pangeran berdiri  di depan istana dan kemudian masuk ke dalam kereta kencana. Ia bersama para pengawalnya segera menuju perkampungan disini. Setelah sekitar 15 menit perjalanan, pangeran meminta pengawalnya memberhentikan kereta kencananya didepan sebuah pohon yang sangat besar.

                 “Berhenti! Aku teringat sesuatu akan pohon ini.” katanya kepada salah satu pengawal.

                 “Ingat apa, pangeran?”

                 “Aku pernah tinggal disini, dulu, sewaktu aku menjadi ulat. Ya, dan aku bersama seekor     
                ulat wanita. Namanya.... Aduh aku lupa nama wanita itu. Ia sangat cantik.”
              
                “Bagaimana kalau kita telusuri rumah-rumah yang ada dipohon itu, pangeran?”
              
                “Baiklah.”

Pangeran beserta para pengawalnya pun terbang menuju rumah-rumah yang ada dipohon besar ini. Dipaling bawah pohon pangeran hanya menemukan rumah yang kosong, ya mungkin semua kupu-kupu di rumah ini sudah pergi semua ke istana. Begitu pula ketika sampai dipohon yang paling atas. Semua rumah kosong, kalaupun ada hanya tinggal kupu-kupu jantan.

                “Semua rumah disini kosong dan tak ada wanita lagi, pangeran.” Sahut salah satu pangeran.

Tapi pangeran tak menghiraukan tiba-tiba saja ia terbang ke atas pohon yang lebih tinggi lagi. Karena ia melihat ada sebuah pintu disana. Dan ternyata rumah ini adalah rumah yang ditinggali Liza.
Pangeran mengetuk pintu rumah Liza. Dan tentu saja ini membuat Liza kaget karena belum pernah ada seorang pun yang bertamu ke rumahnya. Liza membukakan pintu. Alangkah terkejutnya ia melihat sosok yang ia cintai ada dihadapannya.  Pangeran diam, Liza pun diam. Mereka saling berpandangan. Ya, ada cinta dipandangan mereka.

                “Pangeran..” kata Liza lembut.

                “Namamu Liza?” tanyanya sambil memandang mata Liza.
Liza tak menyangka pangeran masih mengenalinya.

                “Kamu masih mengenaliku?”

                “Tentu. Mana mungkin aku lupa dengan seekor ulat semanis kamu.”

                “Ah, kamu berlebihan. Dulu aku memang seekor ulat yang manis. Tapi lihatlah sekarang.”
               
Liza menunjukkan sayapnya yang sama sekali tak indah.

                “Aku tak peduli itu. Aku hanya tau, aku pernah bahagia bersamamu. Kamu pernah ada
                dihidupku, Liza.”

Liza masih diam tak berbicara lagi. Ia bingung harus melakukan apa. Kemudian pangeran mengajaknya untuk terbang menuju istana. Tak mungkin Liza menolaknya, dan terbanglah mereka berdua menuju istana.

                Sesampainya di istana, betapa terkejutnya Wings dan kawan-kawannnya. Ia tak menyangka Liza, seekor kupu-kupu yang jauh dari kata indah itu mampu dicintai dan sekarang resmi menjadi istri dari pangeran yang sangat tampan. Semua kupu-kupu wanita disana memandang iri ke arah Liza ketika pangeran memeluk dan memakaikannya sebuah mahkota.

                Kini, Liza dan pangeran hidup bahagia. Sebahagia mereka sewaktu dulu. Liza dan Pangeran saling mencintai. Pengawal meminta kepada Liza untuk didandani, tapi pangeran menolaknya.

                “Tidak, biarlah dia seperti ini. Karena seperti inilah aku mencintainya.”

Senin, 27 Agustus 2012