Minggu, 30 November 2014

Kemana Twitter yang Dulu?

Rasanya saya sudah terlalu lama menghilang dari serunya, gilanya, dan asyiknya dunia twitter. Rasanya twitter yang dulu bukanlah twitter yang sekarang. Tapi ini serius, lho..

Kira-kira dua tahun yang lalu, masa-masa kejayaan saya bermain twitter. Masa-masa dimana followers dan following saling membutuhkan. Following berkeliaran di timeline dengan tweetsnya yang seru, lucu, menyenangkan, dan sangat menarik untuk diretweet dan dibalas. Followers juga berperan penting kepada tweets yang dituliskan, mereka meretweet tweets yang menurut mereka itu memang menyenangkan. Saya benar-benar hidup di twitter pada zaman itu, ini serius, lho.. tapi jangan serius-serius banget, takutnya makin cinta, kan nanti bingung mau nyalahin siapa. Oke skip bagian ini takutnya makin galau, lanjut ke curahan hati tentang twitter yang dulu dan twitter yang sekarang.

Tapi tunggu, saya juga tidak akan menyalahkan mereka-mereka yang dulunya asyik ditwitter dan sekarang sudah menghilang. Mungkin ini juga salah saya yang kurang mengikuti perkembangan zaman untuk memiliki akun-akun sosial media lainnya yang sedang booming pada saat ini. Jujur, saya belum lama memiliki akun instagram, path, line, karena memang saya baru menggunakan hape Android. Ketinggalan zaman banget ya? Hehe, tapi yasudahlah zaman tak perlu dikejar, tanpa dikejarpun ia sudah pasti datang dan kita sudah pasti menemuinya, cuma tinggal bagaimana individunya aja menyikapi kedatangannya seperti apa.

Dan saya baru datang lagi sekarang setelah sekian lama menghilang. Saya yakin mungkin beberapa kalian sudah tidak ingat saya (ya memangnya saya siapa ya, haha), followers saya berkurang drastis karena saya sudah tidak pernah lagi muncul di timeline mereka. Jujur loh followers berkurangnya hampir seribu, tapi ya alhamdulillah masih ada banyak followers yang setia tidak meng-unfollow saya haha terima kasih terima kasih. Dan ketika saya baru datang lagi sekarang, saya benar-benar bingung dengan isi timeline saya. Kebanyakan isinya adalah hasil share-an dari instagram, path, askfm, dan mungkin ada banyak lg yang lainnya dan saya tidak mengetahui itu. Saya sempat ragu untuk kembali terjun ke twitter yang sekarang, karena menurut saya twitter yang sekarang sudah tak seasyik twitter yang dulu. True? Saya yakin banyak yang setuju, karena ketika saya menulis tweet "
Terus sekarang ini timeline twitter isinya cuma share-an dari path,instagram,askfm? Ah :')" dan "Dulu twitter tuh isinya orang2 ngetweet, pasti ada aja yg bisa diretweet. Sekarang? Share-an semua, apa yg mau diretweet coba?:/" ada banyak yang meretweet tweets tersebut. Terima kasih terima kasih :D

Terlepas dari mereka yang menyambungkan akun-akun sosial media miliknya ke twitter, saya mengambil kesimpulan bahwa cobalah kalau memang ingin disambungkan ke twitter, sambungkanlah yang bermanfaat dan jangan dalam jangka waktu yang cepat. Supaya yang melihatnya juga merasa bahwa ini twitter, bukan hanyalah seperti tempat buangan. 

Cukup disini curahan hati saya. Semoga kata-kata saya tidak menyinggung pihak manapun, kalau memang tersinggung, tolong dimaafkan, karena ini hanyalah curahan hati dari perempuan biasa umur 19tahun, hehe. Akhir kata, saya rindu twitter yang dulu :')


Tertanda
Rizki Kusuma Wardani (@QIQIQOOOY)

Sabtu, 29 November 2014

Berhijab? Yuk!!



Foto ini diambil oleh pak fotografer secara tidak sengaja, tapi hasilnya lucu<3 dan kemudian saya berniat menambahkan beberapa kata disampingnya, sebenarnya kata-kata ini saya buat karena 'proses hijrah' saya yang membuat beberapa orang mencibir.

"Emang gak panas pake kerudung panjangbegitu, ki?"
"Gak gaul kalo bajunya begitu mah.."
"Kayak ibu-ibu banget bajunya, norak"

Ukh, saya terima semua ucapan kalian. Dan saya akan jawab, memakai kerudung panjang sama sekali tidak akan terasa panas, justru saya benar-benar merasakan kenyamanan tersendiri, lho.. Silakan buktikan sendiri :)

Ukh, kalau kita selalu mengejar kegaulan di dunia ini, nggak akan ada habisnya. Ini tentang pilihan, pilihan untuk terus mengejar kegaulan yang tak akan terkejar atau menghindari kegaulan untuk lebih dihargai karena kita perempuan :)

Ukh, kodrat kita sebagai perempuan adalah menjadi seorang ibu. Apa masih mau menjadikan alasan "bajunya kayak ibu-ibu" ? Bukankah menjadi seorang Ibu adalah sesuatu hal yang sangat-sangat membanggakan?

Kawan, yuk berhijab sesuai syariat. Biar berkah dan rasakan kenikmatannya :) Masya Allah

Assalamualaikum, semuanya!

Assalamualaikum, semuanya.
Apa kabar?
Hmm, blog ini rasanya hampir membusuk dan mulai timbul banyak sarang laba-laba. Bagaimana cara membersihkannya ya? Mungkin saya harus menulis dan meramaikan blog ini lagi.
Tulisan ini saya ketik ketika saya sedang sangat dipusingkan oleh tugas-tugas kuliah, iseng-iseng saja buka kembali blog ini, dan membaca semua komentar kawan-kawan pembaca, rasanya hati saya tergugah kembali untuk menulis di blog ini.

Sekarang saya sudah berusia 19 tahun, dan sedang menjalani kuliah semester tiga, jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, di salah satu universitas swasta di Jakarta Selatan.
Cepat sekali ya waktu berlalu. Rasanya baru kemarin saya membuat blog ini, ya baru kemarin saat saya masih berseragam putih abu-abu, haha. sekarang saya sudah dewasa loh, tidak cengeng lagi seperti dulu. Ngga percaya? Lalu aku harus melakukan apa lagi agar kalian percaya? *oke ini keluar dari pembicaraan*

Kawan-kawan semua, saya harap kalian masih mengingat saya. QIQIQOOOY yang dulu bukanlah QIQIQOOOY yang sekarang (tolong baca ini jgn sambil nyanyi), ya QIQIQOOOY yang sekarang sudah tumbuh menjadi perempuan yang lebih memahami rasa kasih sayang, tidak seperti yang dulu ya.. Tapi semoga saja saya masih bisa menulis dengan kegalauan-kegalauan yang membuat kalian menangis, haha.

So.. stay tune in here ya! Saya tidak akan pergi lama-lama lagi. Doakan saya ya :)

Senin, 10 Februari 2014

Harapan Untukmu

Semu, nyatamu hanya mimpiku.
Aku tau ini salah.
Aku tau, aku terlalu banyak menanam harap.
Namun apakah aku salah jika aku berharap harapanku menjadi nyata?
Tolong jangan anggukkan kepalamu.

Kamu hadir, seakan tak bersalam sayang itu merasuki hati ini.
Hati yang dulunya sepi senyap.
Bukan, bukan karena aku tak ingin ada penghuni didalamnya.
Melainkan karena aku menunggu.
Menunggu kamu benar-benar sepenuh hati merasuki hati ini.
Sayang itu ada, namun sayang, hanya aku yang rasa.

Aku ingin merangkai semua bersamamu.
Aku lelah bermimpi sendiri.
Aku lelah berharap sendiri.
Tapi aku tak pernah lelah untuk selalu meninggikanmu dihatiku.
Ya, hatiku yang selalu bermandikan namamu.

Tersenyum, seperti itulah gambaran hatiku saat ini.
Mungkin ia akan bertambah gembira kala melihat sesosok hati menemani disampingnya.
Sudikah kamu menjadi alasan dari kegembiraannya hatiku?

Karya : Rizki Kusuma Wardani

Gila Merindumu

Diantara sesak, aku menyebutmu, rindu.
Diantara harap, aku memanggilmu, rindu.
Diantara senja, aku berdoa untukmu, rindu.

Daun melambai, awan melukismu.
Seiris rindu yang belum sampai.
Seukir cinta yang masih menunggu.

Menunggu untuk diraih.
Menunggu untuk dipeluk.
Menunggu untuk dikasihi.

Rinduku belum habis.
Cintaku belum usai.
Masih berjejer rapih deretan rindu.
Masih tersusun rapi gumpalan kenangan.

Pernahkah kau sebut ini gila?
Gila karena merindu.
Menunggumu pun tak pernah ku sesali.
Selama apapun itu, aku mampu.

Karya : Rizki Kusuma Wardani

Rinduku

Aku benci jarak.
Terkadang ia memaksaku untuk terus menahan rindu.
Rindu membelai sejukmu.

Haruskah ku belai bayangmu?
Haruskah ku sapu sayup rinduku?
Haruskah ku teriakkan cintaku?

Rasanya semua kebahagiaan telah ku genggam.
Kebahagiaan yang mampu membuat matahari tersenyum malu.
Kebahagiaan yang mampu membuat awan menangis.
Menangis bahagia melihat dua insan saling mencinta.
Aku, kamu, disisipi sepotong rindu.

Karya: Rizki Kusuma Wardani

Minggu, 26 Januari 2014

Cinta Diam - Diam



Malam ini, aku tengah asyik menikmati segelas coklat panas yang baru saja ku buat. Dengan seutas doa, ku ucap namanya. Namanya yang selalu menjadi penghias hari-hariku. Hariku tak akan menjadi hariku tanpa mengenal dia. Dia dia dan dia, ya ampun, kenapa selalu dia? Aku termenung dibibir malam. Berharap ia bisa melihatku, melihatku yang selalu mengharapkan sorotan matanya itu mengetahui isi hatiku sesungguhnya. Aku dan dia tak lebih dari seorang kakak beradik yang kemana-mana selalu bersama. Oh, kenapa hubungan ini terasa begitu sakit?

Ku teguk sedikit demi sedikit coklat panasku. Berharap dia akan menghubungiku malam ini. Tapi ternyata nihil. Coklat ini terasa semakin pahit. Ku dengakkan kepalaku.

“Tuhan, sampai kapan aku terus memendam ini?”

Memendam perasaan ini sangatlah perih. Melihat indah matanya, lekuk senyumnya setiap hari, rasanya itu semakin sakit karena aku tidak mungkin bisa memeluk hati si senyum indah itu.

Aku Gio, seorang laki-laki berumur 19 tahun yang memiliki nasib kurang begitu baik. Tunggu, bukan aku menyalahkan Tuhan akan nasibku, aku hanya merasa aku adalah seorang lelaki pecundang. Aku menyayanginya, merindukannya, menyukainya, memimpikannya, mengharapkannya, tapi dia sama sekali tak pernah mengetahuinya karena memang aku tak pernah mengatakannya. Hubungan persahabatan sedari kecil ini semakin lama semakin membingungkan.

Persahabatan. Mungkin itu salah satu halangan kenapa aku belum meyatakan semua gumpalan rinduku. Aku tak pernah mengharapkan jatuh cinta pada sahabatku sendiri. Sahabat yang sedari kecil selalu bermain bersamaku. Rasanya begitu sulit mengubah persahabatan ini menjadi sebuah hubungan yang lebih serius.

Eits, hubungan yang lebih serius? Untuk mengatakannya saja aku bingung, tapi bermimpi memilikimu tak salah, kan?

Kamu yang selalu menjadi mimpiku. Kamu yang selalu menjadi bunga tidurku.Kamu yang selalu menjadi harapanku. Apa mungkin aku ada dipikiranmu saat ini? Seperti bayangmu yang selalu menemani malamku. 

 Kamu selalu mengganggap aku seorang kakak, kakak yang selalu menjagamu, kakak yang selalu ada dikala kamu sedang sedih, kakak yang selalu menasehatimu ketika kamu sedang terluka, kakak yang selalu melindungimu ketika ada lelaki yang mengganggumu. Ya, itu aku. Andai kamu tau, sosok kakakmu itu berharap sangat berharap agar bisa menjadi pendampingmu, kekasihmu, jodohmu. Hmm, mungkin ini terlalu lebay, tapi cinta terkadang membuat seseorang menjadi lebay.

Sakit sekali rasanya saat kamu bercerita bahwa kamu sedang menyukai seorang pria lain. Sedih rasanya mendengar kamu yang selalu membangga-banggakannya. Galau rasanya melihat raut wajahmu yang selalu berseri-seri kala membahas lelaki itu. Tapi apa daya, aku tak punya hak untuk cemburu.

Segelas coklat panasku hampir habis. Tapi doaku untukmu tak pernah habis. Berdoa agar kamu bisa mengerti apa yang aku mau, aku tak minta banyak, ya walau aku tau mimpiku untuk bersanding denganmu adalah keinginanku yang paling besar, tapi aku hanya mau semoga hubungan kakak beradik ini adalah hubungan yang selalu membuat kamu bahagia, nyaman, tersenyum. Ya, melihat senyummu saja, rasanya aku bahagia sekali, walau terkadang senyummu itu tercipta bukan untukku.

Untukmu, Nasreen. Gadis yang masih dan akan selalu menjadi mimpiku. Terimakasih sudah menganggapku sebagai kakakmu, tapi maaf aku punya keinginan lebih dari itu.

Hembusan angin seakan ikut merasakan apa yang kurasa. Bilik hati berkata, kamu yang terindah.

Selasa, 12 Maret 2013

Kala Cinta Datang Terlambat

“Maafin gue ya, Sa..” kata Ruslan ketika bertatap muka dengan Elsa.

“Hah? Maaf kenapa, Lan?” Elsa sedikit bingung karena ia merasa Ruslan sama sekali tak memiliki salah kepadanya.

“Hmm, itu loh yang kemarin malem kan gue udah ngancurin acara lo sama Tian. Gara-gara gue, lo gak jadi jalan sama dia. Maaf banget ya, Sa. Gue gak ada maksud kok..”

“Ya ampun, Ruslan. Berapa tahun sih lo kenal gue? Masalah kayak gitu aja dibesar-besarin gini. Santai aja, Lan..” jelas Elsa.

“Tapi gue nggak enak jadinya sama lo terus sama Tian juga..”

“Udah, lupain ya. Gak usah bahas ini, lagipula Tian juga gak mempermasalahkan ini kok. Ya, udah yuk sekarang kita ke kelas aja..” kata Elsa lalu menggandeng Ruslan untuk masuk ke kelas.

Elsa dan Ruslan adalah sahabat sedari kecil menjalin ikatan sahabat itu kini semakin dekat,  bahkan mereka selalu bersekolah ditempat yang sama. Entah memang sudah ditakdirkan untuk bersahabat atau memang inilah jalan mereka untuk selalu bersama-sama kemanapun mereka pergi. Dimana ada Elsa, disitu ada Ruslan. Begitu pula sebaliknya. Ya, mereka lahir hanya berbeda itungan hari saja. dan mereka pun lahir di rumah sakit yang sama. Ya, mungkin ini bisa dibilang suatu kebetulan yang tidak biasa. Tapi mungkin inilah jalan yang ditakdirkan Tuhan untuk mereka. Orang tua mereka pun sudah saling mengenal sejak mereka masih menjadi bayi. Dan ternyata rumah mereka pun tak terlalu jauh, hanya beda komplek saja. Dari SD, SMP dan SMA mereka selalu bersama, kemanapun dan dimanapun. Tapi ternyata, dibalik kebahagiaan mereka yang selama ini dilihat oleh ribuan mata yang ada disekitarnya, tersimpan kesedihan yang belum terjamah oleh siapapun. Mungkin ini adalah kesedihan yang tak seharusnya terjadi, karena terlalu banyak kebahagiaan yang mereka jalani bersama. Bukan hidup namanya kalau hanya mengharapkan kebahagiaan.

Elsa, seorang gadis mungil berambut panjang dan memiliki lesung pipi adalah gadis yang memiliki banyak penggemar. Eitsss, tapi Elsa bukanlah artis ataupun model, ia hanya gadis biasa yang banyak disukai oleh para laki-laki yang ada di sekolahnya. Ya, Elsa yang memiliki nama panjang Rumania Elsa Saraswati ini adalah gadis yang cantik, manis dan menyenangkan. Tak salah jikalau banyak lelaki yang berusaha merebut hatinya, namun Elsa belum pernah memiliki pacar. Ya, memang banyak lelaki yang mendekatinya, namun Elsa belum mau menerima mereka sebagai kekasihnya, karena baginya kekasih itu hanya satu dan itu akan menjadi suaminya kelak. Itu bukan suatu alasan yang salah, karena Elsa pun memiliki banyak alasan sebelum menyerukan alasannya itu. Tapi Elsa hanyalah gadis biasa yang memiliki rasa suka kepada lawan jenisnya. Seperti saat ini, Elsa tengah dekat dengan seorang lelaki bernama, Tian. Tian adalah kakak kelasnya. Sudah sekitar 4 bulan ini, Elsa dekat dengan Tian. Sebenarnya Tian termasuk cowok yang bisa dibilang populer di sekolahnya, dan sepertinya Tian pun menyukai Elsa. Tapi antara Elsa dan Tian belum ada ikatan apa-apa, ya kembali lagi ke alasan Elsa tadi, ia hanya mau memiliki satu kekasih dan itulah yang nantinya akan menjadi suaminya. Dibalik kedekatan mereka berdua, terselip  air mata di sepasang mata yang selalu tegar menyaksikan kebahagiaan mereka. Siapa pemilik sepasang mata itu?

Ruslan, seorang lelaki yang hobi bermain sepak bola ini sudah menjadi lelaki yang paling beruntung karena bisa terus menerus ada disamping Elsa, gadis cantik yang menjadi idaman setiap lelaki itu. Bagaimana tidak, Ruslan sudah ditakdirkan untuk mengenal Elsa sedari bayi dan sudah bersahabat dalam waktu yang tidak sebentar. Ruslan bukanlah lelaki populer di sekolahnya seperti Tian. Ia hanyalah seorang lelaki biasa yang cenderung pendiam. Dan hanya Elsa lah yang mengerti apa yang diinginkan Ruslan, karena tak banyak orang yang mempu membaca apa yang ia mau. Kedekatan Ruslan dengan Elsa bukanlah hal yang tabu lagi, seluruh isi sekolah hampir mengenalnya karena kepopuleran Elsa di sekolah. Seringkali banyak yang mengira kalau mereka adalah sepasang kekasih, karena mereka selalu berdua dimapun dan kapanpun. Walau sebenarnya mereka hanyalah sepasang sahabat yang sudah ditakdirkan bersahabat oleh Tuhan. Ruslan sebenarnya memiliki perasaan yang berbeda terhadap Elsa, mungkin Elsa hanya mengganggapnya sebagai sahabat. Tapi tak begitu dengan Ruslan, entah perasaan apa namanya yang jelas ia sering menangis menyaksikan kebahagiaan Elsa bersama Tian. Ya, Ruslan memang tak pernah menunjukkan air matanya di depan kebahagiaan mereka, tapi Ruslan selalu pandai tersenyum dan berpura-pura bahagia melihat Elsa bahagia bersama Tian. Mungkinkah Ruslan telah jatuh cinta kepada Elsa? Atau hanya sekedar perasaan takut kehilangan? Ruslan belum menemukan jawaban dari pertanyaan yang bertubi-tubi itu, ia hanya tau kalau ia tak sepenuhnya bahagia melihat kebahagiaan Elsa dan Tian. Mungkin suatu saat nanti, Elsa akan menemukan jawaban dari semua ini dengan sendirinya. Tanpa perlu ia ungkapkan.
***

“Eh, Kak. Maaf ya nunggu lama, tadi ada ulangan dulu..” kata Elsa saat keluar kelas dan melihat Tian sudah menunggunya.

“Hahaha, iya gak apa-apa, Sa. Ulangan apa tadi? Bisa gak?”

“Matematika, Kak. Bisa dong, Elsa gitu..” Elsa menyombongkan diri.

“Ih dasar kamu tuh, bikin aku gemes tau gak..”

Ruslan menyaksikan Elsa dan Tian tengah bercanda-canda di depan pintu kelas. Ia hanya mampu menarik nafas sedalam-dalamnya, lalu menghembuskannya, kemudian mendekati mereka.

“Pada mau ke kantin ya?”

“Hehehe, iya nih, Lan. Ikut yuk?” ajak Elsa.

“Emang kalo gue ikut gak ganggu kalian?”

“Gak kok, yuk..”

Tian tersenyum dengan sengitnya. Sebenarnya Ruslan merasakan kalau Tian amat sangat terganggu dengan hadirnya Ruslan, tapi mungkin ia ingin menunjukkan pada Elsa kalau ia fine-fine aja jika Ruslan ikut bergabung dengan mereka.

“Ya, udah yuk. Nanti keburu bel loh..” kata Tian.

“Yuk, Lan..” kata Elsa lalu menggandeng tangan Ruslan.

Tian tersenyum sinis, Ruslan hanya menunduk dan memohon maaf dalam hati.

Di kantin...

“Mau makan apa, Sa?” tanya Tian.

“Aku sih mie instan aja. Lo apa, Lan?”

“Gue ikut lo aja, Sa..”

“Ya, udah kak. Aku sama Ruslan mie instan aja, minumnya es jeruk..”

“Oke, sayang...” kata Tian lalu segera memesan pesananku dan Ruslan.

“Hah? Lo udah pacaran sama Tian?” tanya Ruslan kaget.

“Nggak, Lan. Dia emang biasa manggil gue gitu..” jawab Elsa santai.

“Jangan sampai nanti lo sakit hati..”

“Sakit hati? Gue kan belom pernah pacaran, Lan..”

“Ya, sakit hati gak harus pacaran kali. Ya, jangan terlalu deket deh, Sa..”

“Iya, Ruslan. Lo cemburu ya? Hahaha..” goda Elsa.

“Kalo cemburu emang kenapa? Gue bisa ngelakuin apa? Gue cuma bisa diem, Sa..”

Elsa diam, lalu Tian datang dan duduk di depan Elsa. Ruslan hanya terus mengarahkan pandangannya kemana saja yang penting ia bisa mengelabuhi Elsa dan Tian akan perasaan cemburu yang kini telah berkuasa dihatinya.

Pesanan mereka bertiga datang, dan mereka menyantapnya. Ini bukan pertama kali bagi Ruslan, harus menjadi karang yang begitu tegarnya, walaupun serangan ombak bertubi-tubi menghantamnya tapi ia masih bisa diam dan tetap konsisten pada sifatnya yang hanya bisa diam dan terus bertahan. Karena Ruslan merasa Tian semakin risih karena kehadirannya jadi sebelum diusir, Ruslan pun memilih untuk pergi terlebih dulu.

“Gue duluan ya, Sa, Kak Tian..” kata Ruslan sambil meletakkan sendok dan garpu yang tadi dipegangnya.

“Eh kok buru-buru sih, Lan. Mau ngapain emangnya?” Elsa berusaha menahan Ruslan untuk pergi.

“Mau ngerjain tugas, Sa. Duluan ya..”

“Eh, tapi...”
Belum sempat Elsa melanjutkan bicaranya, Ruslan terlebih dulu meninggalkannya bersama Tian.

“Udahlah mungkin dia emang mau ngerjain tugas kali, Sa..” ujar Tian.

“Hmm, iya sih. Ya, udah aku habisin makannya dulu ya, Kak..” jawab Elsa.

“Iya, Elsa..”

Elsa menghabiskan makanannya, sebenarnya ia menginginkan kalau Ruslan ada disini. Tapi ternyata Ruslan malah memilih untuk pergi meninggalkannya bersama Tian. Setelah makanannya habis, Elsa langsung menuju kelas untuk menemui Ruslan.

“Kak, aku duluan ke kelas ya. Mau ngerjain tugas juga nih sama Ruslan..” Elsa berbohong karena ia sebenarnya hanya ingin menghampiri Ruslan.

“Yahh, buru-buru sih kamu..”

“Maaf kak, bye..”

Elsa langsung bergegas menuju ke kelas untuk menghampiri Ruslan.

“Lo bohong kan sama gue?”

“Bohong apa, Sa?”

“Lo bilang mau ngerjain tugas, tapi padahal gak ada tugas kan?”

“Maaf, Sa. Gue gak kuat lama-lama ngelihat lo sama Tian..”

“Kenapa, Lan?”

“Gue cemburu, Sa! Gue sayang sama lo..” ceplos Ruslan lalu segera membolak-balik lembar buku yang ada di mejanya.

Elsa diam, lalu memikirkan perkataan Ruslan.

***

Ini bukan hal yang mudah, Sa. Menyembunyikan perasaan yang gak pernah diundang ini tuh susah. Andai lo tau semuanya, andai lo tau perasaan ini, ya terus menerus gue berandai-andai tentang lo. Gue tau lo cuma anggep gue sahabat dan gak akan pernah lebih dari itu. Gue tau, gue gak akan mungkin jadi kekasih satu-satunya buat lo, ya kekasih yang akan jadi suami lo nanti. Tapi apa ini salah? Gue gak mau perasaan ini hadir, tapi perasaan ini hadir dengan sendirinya, Sa. Kapan lo sadar? Kapan lo tau semuanya? Ya, mungkin gue emang gak pernah ungkapin langsung ke lo kalo gue ini sayang banget sama lo. Gue cemburu lihat kebahagiaan lo sama Tian, gue cemburu liat lo bercanda-canda sama dia. Maaf gue emang diem dan terus diem, karena percuma kalaupun lo tau gue cemburu, gue bisa apa? Gue bukan siapa-siapa lo, Sa. Gue cuma sahabat lo, gak akan lebih dari itu.

Ruslan menulis curahan hatinya diselembar kertas lalu menumpuknya dilaci yang ada dikamarnya. Ini bukan lembar yang pertama. Kalau saja Elsa melihat apa yang ada didalam laci ini, mungkin ia akan kaget dan bingung kalau ternyata sahabatnya sedari kecil telah memiliki perasaan ini. Ruslan tak pernah memberitahu Elsa tentang semua tulisannya ini, biarkan waktu yang mengizinkan Elsa untuk melihat semua ini.

“Drrrrrtt..Drrttt...” getaran handphone Ruslan. Ruslan pun mengambilnya, lalu melihat ada satu pesan dari Elsa.

From : Elsa
Lan, udh tdr blm? Gue bete nih, gue bingung mau gimana. Bantuin gue dong.

“Hmm, pasti masalah Tian deh..” gumam Ruslan, lalu membalas pesan Elsa.

To : Elsa
Blm tdr nih, ada apaan sa? Bingung kenapa? Cerita aja lngsung.

Elsa pun membalasnya.

From : Elsa
Kak Tian nembak gue lagi, gue gak mau nerima dia. Tapi gue gak mau jadi musuh sama dia, lan. Gimana dong?

“Nah, bener kan dugaan gue. Lagi-lagi dia..”

To : Elsa
Ya, lo blng aja ke dia. Lo cuma mau jadi temen aja sama dia, gitu aja ribet sih. Lo juga salah, harusnya kalo lo gak mau jadi kayak gini harusnya lo jgn terlalu deket sama dia..”

Agak lama Ruslan menunggu balasan dari Elsa, akhirnya Elsa pun membalas pesannya .

From : Elsa
Iya, gue emang salah. Gue terlalu deket sama dia, tapi gue sama sekali gak ada niat buat bikin dia nembak gue, lan. Gue harus gmn skrg? Apa gue hrs jauhin dia? Gue harus jd musuh sama dia? Gue gak mau itu, lan.

Ruslan membalasnya.

To : Elsa
Ya, kalo emg itu jalan yang terbaik, why not? Kalo emg dia ngerti apa yg lo mau, dia gak bakalan jadi musuh kok sama lo. Dia bakalan mau tetep temenan sama lo.

Tanpa terasa air mata Ruslan perlahan menetes. Ingin rasanya saat itu juga ia ucapkan perasaan  yang selama ini ia pendam pada Elsa. Tapi ia tau, semua itu tak akan berpengaruh. Elsa akan tetap mengganggapnya sebagai sahabat dan tak pernah menanggapi perasaannya. Elsa, kenapa lo gak peka sama semua perhatian gue? Kenapa, Sa!

Kemudian, Ruslan memegangi kepalanya yang terasa sakit. Sepertinya terjadi sesuatu yang tidak beres terjadi di kepalanya. Sakit teramat sakit, kemudian tetesan darah perlahan menetes dari hidungnya. Ini yang sedari dulu Ruslan sembunyikan, kepalanya tengah dilanda penyakit yang sebenarnya bukanlah kemauannya. 
Ya, tumor ganas sudah menguasai kepalanya. Sebenarnya ini hanyalah rahasia keluarganya, jadi hanya Ibu, Ayah dan Kakaknya lah yang mengetahui ini, selebihnya tidak. Begitu juga Elsa, Ruslan sengaja tak memberitahu Elsa tentang ini. Karena ia tak ingin Elsa sedih mengenai ini. Ruslan takut, ia belum bisa mengungkapkan apa yang selama ini dipendam. Ia takut penyakitnya ini akan terlebih dulu merenggut nyawanya. Elsa, maafkan aku kalau ini menyembunyikan semuanya, maaf maaf dan maaf.
***

Setelah penyakitnya kambuh lagi, Ruslan menjadi sering tidak hadir di sekolah. Elsa berusaha mencari tau tentang keberadaannya, tapi hasilnya nihil. Setiap kali ia datangi rumah Ruslan, ia hanya mendapati pembantu yang bekerja di rumah Ruslan. Dan pembantunya hanya berkata kalau Ruslan tengah menemani Ibunya berobat di rumah sakit. Nomor handphone Ruslan sudah tak lagi aktif, Elsa mulai merasakan ada yang aneh dibalik semua ini.

“Bik, tolong bilang sam aku, dimana Ruslan?” tanya Elsa dengan muka memohon.
Bik Ijah, pembantu yang biasa bekerja dirumah Ruslan akhirnya terbuka soal semua ini.

“Sebenarnya Mas Ruslan sakit, Non..”
“Hah? Ruslan sakit?! Sakit apa, bik!” Elsa kaget.
“Bibik kurang tau, Non..”
“Gak mungkin Bibik gak tau! Bik, tolong aku khawatir sama dia..” Elsa menangis.
Bik Ijah hanya diam, karena ia memang tak mengetahui penyakit apa yang di derita Ruslan. Tiba-tiba saja, Elsa langsung bergegas menuju kamar Ruslan, dan apa yang di dapatinya? Sebuah boneka beruang besar bewarna merah muda ada di atas kasurnya. Dan ada sepucuk surat disitu, Elsa langsung membaca isi surat itu.

Dear Elsa,
Mungkin setelah kamu baca ini, aku udah gak bisa lagi nemenin kamu. Aku gak akan bisa lagi lihat senyum kamu, lihat kebahagiaan kamu. Aku tau, aku bodoh. Aku terlalu lama memendam semua ini. Aku terlalu lama untuk mengungkapkan ini. Aku tau, aku dan kamu hanyalah sahabat, ya sebatas sahabat. Tak pernah lebih dari itu, kamu pernah bilang kamu hanyalah sahabatku. Ya sahabat yang sudah ditakdirkan sedari dulu, dan itu akan tetap jadi sahabat. Tapi apa salah kalau aku selalu mengharapkan hubungan kita lebih dari itu? Perasaan ini terlalu dalam untukmu, Elsa. Kamu benar-benar membuatku mengerti apa itu sayang, apa itu cinta. Ya sayang itu saat aku tetap ada disamping kamu, disisi kamu ketika kamu butuh. Cinta, saat aku harus tetap tersenyum melihat kebahagiaanmu bersama “Tian” . Aku hanya ingin bilang, mau nggak kamu jadi pacarku? Jadi yang pertama dan terakhir, jadi yang paling pertama. Ya, karna kamu yang pertama. Tapi kalau kamu memang menolakku, aku tak sesali itu. Bersahabat denganmu saja sudah membuatku bahagia, apalagi menjadi kekasihmu. Tapi ya, sudah lupakan itu. Oh iya, maafkan aku cemburu melihat kedekatanmu dengan Tian, aku cemburu karena kamu selalu tersenyum bersamanya. Maaf kalau aku egois, aku hanya mau akulah yang menjadi alasan dari senyummu. Sekali lagi, aku sayang kamu lebih dari sahabat, Elsa..

Kalau mau temuin aku, temuin aku di Rumah Sakit Harapan Kasih, tapi aku gak jamin kamu masih bisa lihat kedipan mataku atau enggak. Bye Elsa, terima kasih untuk kebahagiaan selama 17 tahun ini..

From : Ruslansyah Gani Abdullah

Tetesan air mata terus menetes di mata indah milik Elsa, tanpa menunggu waktu lama Elsa langsung keluar dari kamar Ruslan dan membawa serta boneka besar yang ada disitu lalu menuju mobilnya yang terparkir di depan rumah Ruslan dan meminta supirnya untuk mengantarnya ke Rumah Sakit dimana Ruslan berada. Diperjalanan, Elsa terus menangis dan terus berdoa semoga ia masih mampu melihat Ruslan tersenyum.
“Ya Tuhan, jaga Ruslan. Jaga matanya, jangan kau tutup sebelum matanya sebelum aku berkata kalau aku menyayanginya, kalau aku menginginkannya untuk menjadi kekasihku yang pertama dan yang terakhir..” doa Elsa.

Sesampainya di rumah sakit, Ibu dan Ayah Ruslan terlihat tengah duduk di depan ruang UGD. Aku bergegas menghampirinya.
“Tante, dimana Ruslan?” tanya dengan air mata yang telah mengucur deras.

Belum sempat Ibunya Ruslan menjawab, tiga orang suster dan satu dokter mendorong sebuah tempat tidur yang biasanya ditiduri pasien rumah sakit keluar dari ruang UGD . Seorang pasien tengah tertidur diatasnya dengan selimut putih menutupi tubuhnya, perlahan kakiku terasa lemas dan fikiranku langsung tertuju pada Ruslan. Aku langsung menghampiri pasien yang tertutup selimut putih itu, lalu kubuka selimut putih itu dibagian wajahnya. Dan apa yang aku lihat? Ruslan tengah tertidur abadi diatasnya. Boneka yang sedari tadi ku pegang, langsung terjatuh.

“Ruslaaan, bangun! Gue mohon, jangan pergi dulu, gue gak mau lo pergi..” aku mulai berkicau sambil berteriak-teriak.
Ibu dan Ayah Ruslan berusaha menenangkanku dan berusaha melepaskan tubuhku yang sedari tadi terus menerus memeluk Ruslan yang sudah tak bernyawa lagi.
“Ruslaan, please sekali ini aja. Buka mata lo, gue mau bilang kalo gue juga sayang banget sama lo. Bangun, Lan! Bangun!”

Kakiku langsung lemas dan merasakan ada sesuatu yang hilang dari tubuhku. Suster itu perlahan mendorong tempat tidur itu semakin menjauh.  Kenapa semuanya terlambat? Kenapa semuanya baru ku ketahui setelah Ruslan pergi?

Aku duduk diam termenung memandang ke jenazah Ruslan yang tengah tertidur dengan tenangnya . Alunan yasin mewarnai kepergian Ruslan. Dengan senyum berhiasan mata yang berkaca ku kecup kening Ruslan, sambil kubisikkan.
“Aku sayang kamu, Ruslan..”

Aku yakin kamu memang tak dapat membalas ucapanku itu, tapi aku juga yakin kalau kamu memang menyayangiku. Waktu belum berpihak pada kita, tapi percayalah kita ditakdirkan untuk bersama. Mungkin disana, Tuhan sudah menyiapkan tempat yang lebih indah untuk aku dan kamu. 
Ruslan, aku tak pernah menyesali keputusan Tuhan untuk memanggilmu. Aku tetap mensyukuri pertemuan ini. Terima kasih ya Tuhan, inikah yang kau bilang CINTA SEJATI? Dipisahkan oleh kematian? Kalau memang ia, biarkan ia pergi menghadapmu. Tolong sampaikan padanya, aku akan tetap menjaga sayang ini. Sayang yang sedari lama ini terjalin, jangan biarkan terputus karena takdir ini.

Hidup Singkat Seekor Semut

“Ma, mana gula bagianku?” pintaku pada mama yang sedang berusaha keras membawakan butir-butir gula yang begitu menggiurkan.

“Ini bagianmu, Flippy,” katanya lembut sambil memberikanku sepotong gula.
Aku pun mengisapnya dengan penuh rasa lapar.

“Nyaam...Nyaam, terima kasih, mama. Gula ini sangat lezat, mama memang hebat..” seruku sambil berlari memeluk mama.

“Iya, sayang,” jawab mamaku lemah, beliau terlihat sangat kelelahan.

“Mama lelah? Flippy pijat ya, Ma?”

“Tak usah, Nak. Mama tak apa-apa, ini juga sudah menjadi tanggung jawab mama.”

“Mama, kenapa mama begitu giat bekerja, mencari makan, mencari uang untuk aku, dan kakak-kakaku yang lain?” tanyaku lalu menyandarkan kepalaku dibahu mama.

“Karena mama sayang, mama cinta kalian semua, Flippy. Apapun akan mama lakukan demi kamu dan kakak-kakakmu,” jawab mama sambil mengelus kepalaku.

“Jadi kita harus rela berkorban untuk siapapun yang kita cinta, ya, Ma?”

“Tentu. Nanti Flippy juga harus seperti itu ya jika sudah memiliki pasangan hidup,”

“Ih, mama ini, Flippy, kan, masih kecil, Ma..”

“Memang kamu bisa menjadi sebesar apa, Flip? Haha..” mamaku tertawa begitu bebasnya.
Aku sedikit tersenyum lalu memeluk mamaku penuh cinta.

“Ma, aku rela melakukan apapun demi mama..” bisikku di telinga mama.

Mama terdiam, terdengar isak tangis dari diamannya.
***
Umurku semakin bertambah, badanku pun bertambah besar walaupun ukurannya tak sebesar ujung jari manusia. Hai, aku sudah bukan lagi Flippy yang dulu, sekarang aku sudah menjadi Flippy yang semakin mengerti beratnya menjadi seekor semut. Seekor semut yang sering dengan sengaja atau tak sengaja diinjak, dibuang, disiram air, tertimpa dedaunan. Tapi aku sama sekali tak menyesalkan diriku yang terlahir dari seekor semut juga. Hidupku menyenangkan, tinggal diantara keluarga yang sangat ramai, tapi ya, namanya hidup pasti ada tangis jika senang tercipta. Aku sering sekali bertemu kesedihan, apalagi ketika satu-per-satu anggota keluargaku, teman-temanku dan yang lainnya pergi meninggalkanku. Ya, mereka semua mati dengan tragisnya. Aku tak bisa membayangkan bagaimana rasanya diinjak seperti yang dialami Ayahku, aku benar-benar terpukul saat itu terjadi, dan sejak saat itu aku benci dengan manusia, aku benci dengan makhluk yang tak pernah menganggap bahwa bangsa semut itu ada dan ingin menjalani kehidupan yang sama seperti mereka.

Sepeninggal Ayahku, aku tinggal bersama mama dan kakak-kakakku yang tak terhitung lagi banyaknya. Beberapa dari mereka bukan kakak kandungku, melainkan hanya semut-semut yang sudah dianggap anak oleh mamaku, mamaku baik, kan? Hihi. Mama adalah sosok semut yang paling berperan dalam hidupku, beliau selalu mengajariku bagaimana melindungi diri dari serangan musuh, mengajariku beradaptasi dengan lingkunganku dan beliau pula yang mengajarkanku tentang pengorbanan. Aku selalu ingat apa yang dibilang mama kalau kita sebagai bangsa semut, janganlah saling meninggi-ninggikan derajat satu sama lain, karena kita semua satu spesies, satu derajat. Dan aku berjanji akan selalu membuat mama bahagia, sampai akhir hayatku.
***
Suatu ketika, mamaku jatuh sakit. Tangannya patah, terinjak belalang yang sangat besar dan menakutkan. Mama hanya bisa berbaring diatas gundukan rumput yang hangat. Mama sangat lemah, ingin rasanya menggantikan posisi mama saat itu.

             “Ma, mama mau makan apa? Nanti Flippy cariin untuk mama,” tanyaku penuh iba.

“Mama ingin sekali menghisap beberapa tetes air teh manis itu, tapi kondisi mama sedang seperti ini,” jawab mamaku sedih.

“Kalau begitu, biar Flippy yang ambilkan air teh manis itu, Ma,” aku langsung berdiri.

“Tak usah, Nak. Itu membahayakan untukmu, nanti kamu bisa terinjak dengan manusia-manusia yang ada di rumah sana,” kata mama khawatir.

“Flippy akan baik-baik aja, Ma. Lagipula mama kan selalu mengajarkan Flippy bagaimana berkorban untuk siapapun yang kita cintai, dan sekarang Flippy rela berkorban apapun untuk mama, hanya untuk mama..” mataku  mulai menahan tetes airnya.

“Tapi mama nggak mau kamu kenapa-kenapa, sayang..”

“Mama, percaya ya sama Flippy..” aku pun meyakinkan mama.

“Baiklah. Jaga dirimu baik-baik, Nak. Bawa gelas daun itu untuk menaruh tetesan air teh manis itu ya..” jawab mama sambil mengelus pundakku dengan tangannya yang tinggal sebelah kiri.

Aku pun melangkah mengambil gelas daun yang ada di dekat meja makan.

“Ma, Flippy berangkat ya. Kalau hari ini Flippy pergi, percayalah Flippy sama seperti mama, yang selalu rela berkorban untuk siapapun, termasuk mama..”

“Doa mama menyertaimu, Nak..”

Aku berjalan keluar rumah kecilku sambil menenteng gelas daunku. Mataku sudah tertuju untuk dapat masuk ke dalam rumah yang dihuni manusia-manusia. Dengan bersemangat, aku berusaha mengendalikan keadaan sekitar. Langkah demi langkah ku taklukan, akhirnya sampailah aku di depan pintu rumah yang sangat besar. Dengan tubuhku yang kecil, aku mampu melewati celah-celah di bawah pintu. Aku melihat seorang lelaki muda tengah menyeduh teh di cangkirnya. Aku pun berusaha naik ke atas meja dimana lelaki muda itu meletakkan cangkirnya. Untunglah meja ini tak terlalu tinggi untuk ku hinggapi. Aku berlari sambil terus menenteng gelas daunku. Akhirnya aku tiba di ujung meja itu, aku melihat sebuah cangkir yang sangat besar dan lelaki muda itu menuangkan beberapa sendok gula pasir. 

Sepertinya gula itu sangat lezat. Lalu lelaki muda itu pun pergi meninggalkan cangkirnya untuk menaruh gula ke tempatnya semula. Aku memanfaatkan situasi ini untuk mengambil beberapa tetes air teh manis ini. Aku berlari sekuat tenaga dan sekarang aku telah berada di samping gagang cangkir, aku tapaki cangkir sampai ke bibirnya. Aku berusaha menjaga keseimbanganku agar aku tidak tenggelam dalam larutan air teh yang ternyata panas ini. Bisa mati aku karenanya. Aku mulai menyiduk air teh ini dengan gelas daun yang ku bawa.  Tapi malang nasibku, kakiku terpeleset dan aku pun tenggelam dalam larutan air teh yang panas ini. Aku berusaha meraih bibir cangkir, tapi aku tak sanggup, sampai beberapa saat kemudian lelaki muda itu datang dan melihat ada semut tengah mengapung di teh buatannya.

“Astaga, kenapa ada semut sih. Buang aja deh..” lelaki muda itu pun membawa secangkir teh manis panas itu dan melemparkannya keluar jendela.

Aku hanya mampu merasakan kaki dan tanganku tak dapat ku gerakkan. Mataku pun tak mampu lagi terbuka, gelap. Tapi mulutku masih mampu sedikit mengucap kata-kata dan kata-kata yang hanya mampu ku sebutkan adalah “Mama” . Mungkin karena panggilan batin, aku merasakan sentuhan lembut di keningku.

             “Flippy, kamu baik-baik aja, Nak?” tanya mamaku sambil terisak.

“Ini...ini buat..ma..ma..” jawabku terbata sambil menyerahkan gelas daun yang berisi beberapa tetes air teh manis.

“Flip, jangan tinggalkan mama, sayang..”

“Flippy sa...sa..sayang ma..ma,” kata-kata terakhirku dan setelah itu aku pun menghembuskan napas terakhirku.

“Flippy.......” teriak mamaku sambil memelukku erat.

Mama, aku senang sudah berkorban untukmu. Untuk tetesan air teh manis yang engkau inginkan, Ma. Lihat, Ma. Aku berhasil membawakannya untuk Mama. Mama, cepat sembuh. Terima kasih untuk semua pengorbananmu. Aku Flippy, semut kecil dengan hidup yang begitu singkat tapi begitu berarti karena mama. Terima kasih, Tuhan sudah menjadikanku seekor semut, aku bangga, Tuhan. Jaga mamaku ya, Tuhan. 

Selasa, 19 Februari 2013

Salam Pena

Selasa malam, 19 Februari 2013

Halooo semuanyaaaa. Maaf yaa akhir-akhir ini saya tidak update cerpen-cerpen saya disini. Jujur, saya tengah sedikit sibuk dengan urusan sekolah saya, terlebih sekarang saya duduk di kelas 12.
Dan sebenarnya saya mempunyai kurang banyak waktu untuk posting beberapa karya disini. Bukan karena saya tidak menulis cerita selama ini, ya.. Saya sudah menyelesaikan banyak cerpen tapi cerpen-cerpen itu saya ikut sertakan dalam berbagai macam lomba.

Akhir tahun kemarin, saya mengikuti sebuah event lomba. Judul cerpen yang saya sertakan saat itu "Aku Tidak Gila!" Kalian bisa membaca naskahnya disini http://penanusantara.com/2012/12/aku-tidak-gila/ . Dan alhamdulillah, tanggal 17 Februari kemarin, diumumkan bahwa semua naskah yang mengikuti lomba tersebut harus diseleksi sebanyak 3 kali. Seleksi pertama, dari 400 lebih naskah akan disaring 23 naskah terbaik. Dan naskah cerpen saya termasuk didalamnya, ada diurutan nomor 16, bisa dilihat disini http://penanusantara.com/2013/02/pengumuman-tahap-i-lomba-akhir-tahun/ . Dan setelah ini, akan diadakan  dua kali seleksi lagi. Jadi, saya selaku penulis sangat berharap kepada siapapun yang membaca ini, dimohon untuk membaca juga naskah cerpen saya. Oh, iya, setelah dibaca, jangan lupa diisi kolom komentarnya ya. Karena itu akan menambah poin untuk naskah saya agar bisa lolos ke seleksi selanjutnya. Dan juga dalam event ini, jurinya adalah pembaca itu sendiri. Jadi saya sangat memohon yaaa kepada yang membaca untuk menitipkan komentarnya atas naskah saya.

Untuk pengertiannya, saya ucapkan terima kasih.


Salam Pena,
Rizki Kusuma Wardani

Minggu, 16 Desember 2012

INSOMLOVE


Secangkir kopi hangat kembali menemaniku di malam ini. Dengan telaten, ku catat semua tentangnya. Tentangnya yang selalu menjadi alasan mataku enggan terpejam kala malam datang. Mengingatnya, ritualku setiap malam setelah berdoa. Aku tak pernah lupa akan lekuk indah senyumnya, sapaan ramahnya, tertawa merdunya. Ah, sungguh dia sudah benar-benar merajai pikiranku. Ini semua ku persembahkan untukmu, pujaan hatiku..

Malam semakin larut, ku tengok jam sudah hampir menunjukkan pukul dua dini hari. Tapi kenapa aku belum merasakan kantuk sedikitpun? Yang ada malah perasaan rindu, perasaan ingin berjumpa.

Kertasku semakin penuh dengan namanya, nama yang begitu membuatku dicandu asmara. Aku tak bermaksud berlebihan, tapi memang ini yang kurasakan. Semuanya, semua tentangnya sudah ku tata rapi dalam buku ini. Buku yang ku beri nama “INSOMLOVE”. Buku kecil ini sangat berharga bagiku, karena disinilah tertulis semua mimpiku, dan namamu selalu ada disetiap lembar buku kecil ini, kamu, selalu kamu dan hanya kamu..

Aku selalu menulis disini. Semua yang ku alami hari ini, semua keceriaan yang ku dapat kala menerima pesan singkat darimu, aku tak pernah bosan.
Aku tak tau kenapa aku selalu senang menulis disini setiap malam, dini hari lebih tepatnya. Aku hanya tau malam itu aku rindu kamu.

***

Tak terasa tiga tahun sudah aku diam. Diam membisu memyembunyikan kasih. Ini menyiksa dan aku yakin tak semua wanita mampu menjadi sepertiku. Rasanya ini sudah terlalu lama untuk memendam perasaan ini. Tapi mau bagaimana lagi? Lebih baik aku memendam daripada aku ungkap namun tak dihiraukan. Ini sedih loh...

                “Kean sudah punya pacar? Lalu aku harus bagaimana? Bahagia? Mungkin..”

Aku tak menyangka semuanya terjadi seperti petir yang menggelegar. Mengagetkan hatiku yang masih diam. Aku benar-benar kaget mendengar pujaan hatiku yang hanya ada dimimpiku itu kini sudah berpacaran dengan sosok wanita yang sangat cantik. Dan kini sepertinya akan ada tetesan air mata disetiap lembaran INSOMLOVE-ku..

Mereka semakin dekat. Bahkan setiap orang yang melihatnya pun selalu memujinya, memuji keserasian diantara mereka. Ini sakit loh.. Hatiku, semoga kamu lebih kuat ya.

***

INSOMLOVE,

Hari ini aku melihat mereka lagi. Kean bersama kekasihnya, mereka memang serasi, dan jujur saja aku iri melihat keserasian mereka. Tak pernah kubayangkan jika penantianku sejak dulu untuk menjadi kekasih Kean kini pupus sudah. Kean sudah menjadi milik wanita lain. Lalu bagaimana dengan hatiku? Hatiku yang sudah terlalu lama memimpikanmu.

Tesss.. satu persatu tetesan air mataku menetes membasahi lembaran buku INSOMLOVE-ku. Ini sungguhan. Aku sedih melihatnya bahagia bersama yang lain. Ku pandangi semua hasil jepretan kameraku, semuanya tentang kamu, Kean. Semuanya berjejer rapi di dinding kamarku. Mungkin aku akan jadi pengagum rahasiamu, entah sampai kapan aku tak tau. Aku hanya tau, kameraku tak pernah bosan menjepret semua tentang kamu, dan pensilku tak pernah tumpul untuk menulis semua harapku, bersamamu, di satu masa, nanti...