Minggu, 23 September 2012

Wosh, Iwes dan Lenez


Aku mampu melihatnya. Melihatnya yang tak dapat dilihat mereka. Apa yang terjadi pada diriku? Kenapa aku berbeda? Kenapa aku tak seperti yang lainnya?

Perlahan hembusan angin menerobos masuk, ya itu mereka, mereka datang. Sahabat kecilku sejak aku tinggal di rumah ini. Kenalkan si sulung, aku biasa memanggilnya Wosh, lalu yang kedua bernama Iwes, ya dia seorang wanita, dan yang terakhir si bungsu bernama Lenez. Iwes satu-satunya wanita diapit kedua lelaki. Wosh memiliki sifat yang mengerikan, ia akan sangat marah jika ada yang menjahati makhluk-makhluk yang ia sayangi, tapi Wosh termasuk orang yang sangat adil, mungkin karena Wosh adalah yang paling tua diantara yang lainnya. Sedangkan Iwes memiliki sifat yang sangat lembut, mungkin karena Iwes adalah wanita. Lalu yang terakhir, Lenez. Lenez adalah sosok lelaki yang sangat tampan, tapi sebagian wajahnya hancur.

Sudah hampir 3 tahun aku bersahabat dengan mereka. Dan aku sudah hafal semua sifat-sifat mereka, rasanya sama seperti bersahabat dengan makhluk nyata lainnya. Tak ada yang berbeda, hanya terkadang memang agak sulit untuk menyentuhnya. Tapi itu tak menjadi masalah, aku masih mampu tertawa bersama mereka. Hanya sampai sekarang hanya Iwes yang masih sulit untuk tertawa, ia sulit untuk tertawa lepas seperti kedua saudaranya yang lain.

Dan aku pun tau kenapa Iwes seperti itu, ia sedih, sepotong tangan kirinya hilang entah kemana. Ketika aku bertanya dimana tangan kirinya, ia hanya menjawab “air dan batu.” Aku benar-benar bingung, sementara itu Wosh dan Lenez yang sudah menganggap Iwes saudara kandung mereka pun sama sekali tak tau masalah tangan kiri Iwes yang hilang.

***
                “Bantu aku, Sel!” seru Iwes disuatu malam.

                “Apa yang harus ku bantu?”

                “Aku ingin tanganku kembali. Hanya itu.”

                “Bagaimana caranya, Wes?”

                “Datangi rumah kejam itu, Sel. Ada tanganku disana, disamping kolam dekat batu besar.”

                “Kamu tau dimana tanganmu? Kenapa kamu gak coba ambil sendiri?”

                “Aku tak bisa sendiri. Mereka semua manusia-manusia kejam, aku takut, Sel.”

                “Apa yang harus ku lakukan? Dimana rumah itu, Wes?”

                “Di ujung jalan dekat bukit Kuning. Wosh dan Lenez tau dimana letak rumah itu.”

                “Baiklah. Aku akan kesana besok bersama Wosh dan Lenez.”

                “Berhati-hatilah, Sel. Disana setiap harinya selalu ada pembunuhan wanita.”

Aku tersentak. Bagaimana ini? Apa aku mampu membantu Iwes mengambil kembali tangan Iwes? Tuhan, bantu dan lindungi aku. Aku tak ingin melihat sahabatku terus menerus bersedih seperti ini.
Aku keluar rumah dan mencari dimana Wosh dan Lenez, sementara itu Iwes tengah duduk diam di kamarku. Dari kejauhan, aku melihat Wosh dan Lenez sedang berbincang, aku mendekati mereka.

             “Sedang apa kalian?” tanyaku lalu duduk disamping Lenez.

            “Aku sedang membuat strategi untuk mengambil kembali tangan Iwes di rumah tua itu.”
                jawab Lenez.

“Baru saja aku mau memberitahu kalian tentang ini, ternyata kalian sudah mengatur strategi.”
  
“Aku tak ingin melihat gadis itu terus menerus bersedih.” kata Wosh.

“Lalu bagaimana selanjutnya?”

“Rumah itu sangat menyeramkan. Tak ada wanita yang berani mendekat ke rumah itu. Siapapun            wanita yang berani mendekat kesana, akan habis, Iwes salah satu korbannya.” Lenez bercerita.

“Aku tak gentar! Aku mau membantu Iwes.” Jawabku.

“Kamu yakin, Sela?” tanya Wosh.

“Sangat yakin, Wosh.”

“Baiklah kalau begitu besok malam kita kesana.”

Keesokan malamnya, aku, Wosh dan Lenez bersiap-siap mengatur strategi untuk mendatangi rumah menyeramkan itu. Sementara Iwes masih tersedu di kamarku, ia masih sangat berharap tangannya bisa kembali dan ia bisa seperti kawan-kawannya yang lain. Tenang sobat, aku akan membantumu, semampuku dan aku akan bawa pulang tanganmu.

Dengan tergesa-gesa aku membawa panci yang biasa dipakai Ibu untuk memasak, lalu ku sangkutkan garpu beserta pisau dilenganku.

                “Bagaimana? Sudah cukupkah peralatanku?” dengan bangga aku memamerkan alat-alat itu.

                “Astaga, Selaaa. Kamu ini mau membuat sup?” tanya Wosh dengan muka sedikit kesal.

                “Kenapa, Wosh? Kita butuh peralatan untuk masuk ke rumah seram itu, kan?”

                “Ya, tapi gak seharusnya kamu membawa semua peralatan dapur ini, ini gak akan membantu
                sama sekali.”

                “Benarkah? Lalu apa yang harus aku bawa?” tanyaku kepada Wosh sambil meletakkan
                semua peralatan dapur itu di lantai.

                “Pakai ini.” Wosh menyerahkan sebuah tongkat berwarna merah yang warnanya sedikit
                menyilaukan mataku.

                “Ini? Apa gunanya tongkat ini?” tanyaku bingung.

                “Ini akan membantumu jika nanti manusia-manusia kejam itu mendekatimu.”

Si tampan Lenez, sedang sibuk berkutat dengan bola-bola kecil berwarna hitam yang aku sendiri tak tahu apa itu. Semua peralatan sudah siap, pukul 01:00 dini hari, aku, Wosh dan Lenez berangkat menuju rumah menyeramkan itu. Ya, semoga semuanya berjalan sesuai rencana. Aku mengambil sepatu rodaku, karena Wosh dan Lenez nantinya akan terbang, jadi supaya aku tak tertinggal, aku memakai sepatu roda kesayanganku ini.

***
Kita berhenti diatas bukit kuning, aku melihat ada sebuah rumah tua di ujung jalan.  Aku hanya melihat tak banyak cahaya di dalam rumah itu, memang tampak menyeramkan. Aku mengambil teropong yang ku taruh di dalam tasku, ku arahkan ke arah rumah itu. Di samping rumah itu terdapat sebuah kolam besar dan ada banyak batu disana, betul apa yang dibilang Iwes.

                “Nampak menyeramkan untuk manusia awam.” celetuk Wosh ketika aku sedang
                memperhatikan rumah itu.

                “Memang.”

                “Lalu? Apa kamu benar-benar berani, Sel?” tanya Lenez.

                “Ya! Aku tak gentar, semuanya demi Iwes, sahabatku, sahabat kita!”  jawabku dengan penuh
                semangat.

                “Baiklah. Nanti aku lebih dulu masuk dan mencari dimana letak manusia kejam itu. Aku akan
                membuat mereka ketakutan. Setelah itu, kamu dan Wosh segera mengambil tangan Iwes di
                antara bebatuan dekat kolam itu.” jelas Lenez.

Aku dan Wosh mengangguk, sementara aku melepas sepatu rodaku dan memasukkannya ke tas. Sedangkan Lenez sudah terbang menuju rumah itu. Aku jalan pelan-pelan dan Wosh berjaga-jaga di belakangku. Aku semakin dekat dengan rumah menyeramkan itu. Entah kenapa, bulu kudukku berdiri ketika aku sampai di depan rumah ini. Astaga, banyak nyawa melayang di rumah ini. Dan mereka semua menangis. Aku mampu merasakannya. Wosh menyuruhku untuk masuk lewat pintu belakang, ya ku kira ia memang tahu lebih dalam seluk beluk rumah ini. Aku mengikutinya.

Aku mendengar suara teriakan dari dalam rumah. Ya, aku yakin orang-orang jahat itu pasti ketakutan melihat wajah Lenez yang hancur. Aku dan Wosh mencari-cari ke batu yang satu ke yang lainnya. Dimana tangan itu? Aku tak menemukannya, aku sempat putus asa. Aku duduk dibalik batu yang lumayan besar. Sementara Wosh masih mencari tangan Iwes. Beberapa saat kemudian, Wosh datang dan membawa tangan kiri Iwes.  Ah, betapa senangnya aku.

                “Selaaa, lihatlah aku membawa tangan kiri Iwes.” serunya sambil menenteng tangan kiri
                Iwes.

                “Ah, syukurlah, Wosh. Aku sudah hampir putus asa.”

                “Sini, biar tangan Iwes aku taruh di tasku.”

                “Jangan, biarkan aku saja yang pegang. Nanti tasmu bau darah, Sel.”

                “Hmm, baiklah. Lalu dimana Lenez?”

                “Lenez sudah menunggu kita di depan gerbang. Cepat kita kesana, sebelum manusia kejam
                itu datang dan membunuhmu.”

Aku mengeluarkan lagi sepatu rodaku, dan dengan sekuat tenaga aku berlari sementara Wosh terbang, di belakangku.  Aku dan Wosh berhasil keluar dari rumah menyeramkan ini. Lenez sudah menunggu aku dan Wosh.

                “Bagaimana? Adakah tangan Iwes diantara batu-batu itu?” tanya Lenez.

                “Aku dapat tangan Iwes, Len.” seru Wosh sambil memperlihatkan tangan Iwes yang dia
                pegangi daritadi.

                “Syukurlah. Ah, aku sudah membayangkan betapa bahagianya Iwes.”

Aku, Wosh dan Lenez pun pulang. Huh, malam yang sangat melelahkan. Dari atas bukit kuning, aku menoleh ke arah rumah itu. Wosh dan Lenez berhenti.

                “Kenapa berhenti dan terus memandang ke rumah itu, Sel?” tanya Lenez.

                “Disana banyak kesedihan, Len. Aku mampu merasakannya.”

Wosh mendekat.

                “Mereka semua menangis, Len. Mereka semua tersiksa. Arwah mereka tak tenang, tapi
                kenapa manusia-manusia itu tak pernah merasa menyesal sedikitpun?” air mataku perlahan
                menetes.

                “Suatu saat nanti akan ada balasan untuk manusia-manusia itu, Sel.” sahut Wosh.

                “Betul. Akan ada saatnya mereka marah dan membalas semua dendamnya. Janganlah
                kamu teteskan air matamu, Sel. Aku tak mau melihatmu menangis.” tambah Lenez.

Aku menghapus tetesan air mataku dan berharap suatu saat nanti akan ada azab untuk manusia-manusia jahat itu. Aku berjalan dengan santai menggunakan sepatu rodaku dan perlahan menjauh dari bukit kuning. Tak terasa aku sudah tiba di depan rumahku dan segera masuk menuju kamarku. Ku lihat Iwes masih duduk dengan sendu, ia menoleh ke arahku, Wosh dan Lenez.

                “Bagaimana tanganku? Apa masih ada disana?” tanyanya penuh harap.

Wosh memperlihatkan apa yang ada ditangannya. Dan raut wajah Iwes pun berubah, ia tampak bahagia melihat tangan kirinya.

                “Terimakasih kawan. Berkat kalian aku mampu lagi bertemu dengan tangan kiriku.”
                kata Iwes dengan muka yang sangat bahagia.

                “Ini sudah kewajiban kita semua, Wes. Kita gak mau kamu sedih berlarut-larut.” Jawab
                Wosh sambil merangkul Iwes.

Wosh, Iwes dan Lenez saling berpelukan. Ingin rasanya ikut memeluk mereka, tapi aku tak mampu. Aku hanya mampu tersenyum dan tertawa bersama mereka.

Kini, sejak tangan kirinya kembali, Iwes tak pernah sedih lagi. Ia selalu gembira dan senyum tak pernah lepas dari wajahnya. Dan kami semua bermain bersama, dan inilah kehidupanku, bersama mereka. Ketiga sahabatku yang tak nyata.

Rabu, 05 September 2012

Kedua


Derap langkah kakinya semakin menjauh. Aku tak tau mengapa, padahal yang ku tau dia cinta aku, begitu juga aku. Ah, apakah cinta selalu meninggalkan? Aku masih berdiam mematung, berharap ia akan berbalik menghampiriku. Apakah cinta selalu berharap?

Aku baik-baik saja, dulu. Sekarang? Tanpa perlu ku jawab, seharusnya kamu sudah tau bagaimana keadaanku. Aku tegar dalam kelemahanku. Aku rindu genggamanmu.  Aku lelah menjadikan “cinta tak harus memiliki” sebagai alasan ketegaranku sekarang. Aku ingin memilikimu seutuhnya, tak seperti sekarang, aku terbagi.

                “Bagaimana selanjutnya, Diz? Sampai kapan kita bersembunyi-sembunyi seperti ini?”

                “Aku gak tau.”

                “Kenapa gak tau sayang? Kamu udah janji akan mutusin dia demi aku, kan?”

                “Iya, tapi aku gak tau kapan, sayang.”

                “Aku butuh kepastian, aku capek. Kamu sadar ga? Udah hampir 1 tahun kita seperti ini.”

                “Iya, aku tau. Sabar ya. Aku lagi cari waktu yang tepat.”

                “Sampai kapan aku harus bersabar?”

Obrolan antara aku dengan Dizki, sebulan yang lalu. Itu yang pertama dan yang terakhir, enggan rasanya aku menanyakan pertanyaan seperti itu lagi. Sesak rasanya ketika harus mendengar jawaban yang sama seperti itu lagi. Huh, aku tak tau sampai kapan akan seperti ini. Aku hanya tau, aku belum memilikinya dan akan terus seperti ini.

***
 
Tuhan, beginikah rasanya mencintai bahkan menjalin kasih dengan kekasih orang lain? Kenapa menyakitkan? Padahal aku tak merasakan sakit ini diawal. Bulan mencoba menghiburku tapi aku sama sekali tak terhibur olehnya, maaf.

Andai  semuanya tak terjadi sejauh ini, tapi semuanya terlambat. Ah, kenapa aku harus menerima cintanya? Padahal aku tau saat itu ia tak sendiri. Kenapa aku menyayanginya yang telah disayangi wanita lain? Menyesal...

                “Aku sayang kamu, Ta.”

                “Tapi kekasihmu lebih menyayangi kamu.”

                Dengan lekat, ia menatapku, “aku mau kamu menyayangi aku lebih dari kekasihku.”

                “Gak bisa, Diz.”  Aku memalingkan wajahku dari matanya.

                “Kenapa gak bisa? Apa yang gak bisa? Semuanya bisa. Aku tau kita saling sayang.”

                “Apakah saling sayang harus memiliki? Walau kondisinya seperti ini?”

                “Yang aku tau, cinta tak perlu banyak alasan.”

Ia langsung meraih tanganku, digenggamnya, lalu diciumnya. Ah, aku benar-benar jatuh. Aku memang menyayanginya, tapi salahkah aku jika nyatanya lelaki yang kusayangi adalah kekasih sahabatku?

***

Aku mengiyakan ajakannya untuk menjalin kasih. Walau aku tau, kini aku menjadi yang kedua. Tapi ini tak terlalu menjadi masalah, aku hanya mementingkan aku menyayanginya dan diapun begitu.

Tak bisa dipungkiri, menjadi seseorang yang kedua itu sangat menyesakkan. Berkali-kali aku tetap diam dan terpaksa tersenyum menyaksikan kebahagiaan Dizki dengan kekasihnya Silvi. Dizki terlihat sangat menyayangi Silvi, tapi Dizki bilang rasa sayangnya untukku lebih besar dibanding sayangnya kepada Silvi. Entah siapa yang benar yang jelas aku percaya akan semua perkataan Dizki. Bodoh ya?
Tapi aku tak sebodoh yang kalian pikir. Aku yakin banyak dari kalian yang berpikir bagaimana mungkin aku mau diduakan secara terang-terangan seperti ini? Tapi aku punya alasan, aku mungkin bodoh, tapi alasanku tak sebodoh diriku.

                “Aku bodoh ya?”

                “Bodoh? Kamu kok ngomong gitu, sayang?”

                “Jelas. Siapa wanita yang mau diduakan selain aku?”

                “Tolong jangan bahas itu.”

                “Kenapa?”

                “Aku gak mau bahas itu lagi sekarang.”

                “Kamu selalu mengelak. Apa ini yang kamu bilang sayang?”

                “Yang penting aku sayang kamu dan kamu sayang aku.”

Kesalahan terbesarku, mencintai kekasih sahabatku. Maafkan aku, Silvi. Aku juga tak berharap sayang ini tumbuh untuk Dizki, kekasihmu.

***

Hubungan diam-diam ini masih tersembunyi. Tak ada siapapun yang tau, hanya aku, Dizki dan Tuhan yang tau semuanya. Aku masih sanggup menahan rasa cemburu yang sering membakar hatiku, aku masih sanggup menunggu, menunggunya menjadi milikku, seutuhnya, satu-satunya.

Dulu, ia pernah berjanji akan segera memutuskan Silvi, demi aku. Tapi nampaknya janji itu kian lama memudar. Tak terlihat lagi pucuk janji itu. Aku harus bagaimana? Bersabar? Lebih lama lagi? Lebih sakit lagi? Ya, Tuhan, sungguh ini sakit. Andai aku tak menerimanya dulu, pasti semuanya tak akan sesakit ini.

Tapi ya, sudahlah, semuanya sudah terjadi. Ia pun sudah pergi, aku tak berharap ia kembali, walau aku masih merindukannya.  

                “Aku gak bisa mutusin Silvi, Ta.” Katanya sendu diantara matahari yang perlahan terbenam.

                “Aku tau itu.”

                “Kamu tau? Sejak kapan? Kalau begitu kenapa kamu menerimaku, Ta?” ia memandangku
                serius.

                “Sejak lama. Aku nerima kamu dulu karena aku benar-benar sayang dan ingin 
                 memilikimu.”

                “Walau kamu tau kamu gak akan milikin aku?”

                Aku mengangguk. Senja seakan memaksaku untuk menangis.

                “Kamu jangan nangis, Ta. Aku bukan lelaki yang pantas untuk kamu tangisi.”

                “Gak pantas? Buktinya apa sekarang? Kamu sangat pantas untuk aku tangisi.”

                “Ta, aku memang sayang kamu. Tapi Silvi, dia lebih butuh aku dan aku gak bisa....”

                “Udahlah, Diz. Gak usah beralasan terus, aku udah tau semua tanpa perlu mendengar
                 alasan-alasan kamu.”

               “Maaf, Ta.”

                “Aku selalu memaafkan orang-orang yang sangat kusayangi, Diz. Termasuk kamu.”

                “Kamu tegar, Ta.”

                “Wanita harus tegar. Menyayangi seseorang yang sudah menyayangi lainnya, nampaknya                 membuatku lebih tegar. Terima kasih, Dizki.”

                “Maafkan aku untuk semua kesalahanku ini, Ta.”

                “Gak ada yang salah.”

                “Baiklah. Aku pergi sekarang.Semoga akan ada yang lebih baik dari aku diluar sana.”

                “Pasti, ada banyak yang lebih dari kamu.”

Punggungnya semakin jauh. Aku masih tetap tegar dengan air mata yang perlahan menetes. Mungkin setelah dari sini, ia akan mengunjungi Silvi, kekasihnya. Sedangkan aku? Aku hanya tau besok adalah hari baru dan aku harus belajar dari hari ini.

Dizki, terima kasih untuk kebohonganmu selama hampir 1 tahun ini.

Semoga sahabatku akan lebih memberikan kebahagiaan yang tak pantas kuberikan untukmu. 

Selasa, 28 Agustus 2012

Cinta Pangeran Kupu-Kupu


                 Aku mencintainya,pangeran kupu-kupu  itu. Hanya ia yang sedari dulu tinggal di hati kecil ini. Tapi kini aku tak lagi menemukannya. Dulu kami tinggal bersama, di dahan  pohon itu. Kami selalu bersama sejak kami berdua masih menjadi ulat. Ah, aku ingat saat pertama kali mengaguminya.  Ia menggeliat-menggeliat, menampakkan kulitnya yang indah. Bewarna kekuningan emas disisipi warna hijau muda yang begitu mengkilau. Sangat indah, dan aku sangat yakin jika nanti pada saatnya ia menjadi kupu-kupu, ia akan menjadi kupu-kupu yang sangat tampan dan benar saja setelah ia terlebih dulu menetas dari kepompong, kini ia menjadi seekor kupu-kupu yang sangat indah. Karena kepakan sayapnya yang indah itu pula-lah ia dijuluki “Pangeran Kupu-Kupu” . Beberapa jam setelah ia menetas dari kepompongnya, aku pun ikut menetas. Tapi sayang, aku tak terlahir sebagai kupu-kupu yang indah. Sayapku tak seindah sayap pangeran kupu-kupu. Ya, pangeran pun lupa bahwa ia pernah berkata ia akan menyayangiku, hingga nanti kematian-lah yang memisahkan cinta ini.
                
               Hai, namaku Butterliza. Mereka biasa memanggilku Liza. Aku hanya seekor kupu-kupu yang memiliki paras tak begitu indah. Tak seperti kupu-kupu kebanyakan. Aku terlahir disebuah dahan pohon yang ku tau pohon itu sudah tua karena akarnya pun sudah menjalar kemana-mana. Dan pohon itu masih setia menjadi tempat tinggalku, sampai sekarang. Kalian tau? Menjadi kupu-kupu sepertiku tak terlalu menyenangkan. Aku tak bisa bermain bebas disini, aku tak bisa terbang bebas diatas sana. Karena apa? Aku malu, aku malu akan parasku yang berbeda dengan kupu-kupu yang lainnya. Ya, aku hanya memiliki dua buah sayap berwarna hitam diselingi kuning yang tak terlalu menarik. Wajar banyak yang tak ingin berteman denganku. Dan aku hanya mampu tinggal sendiri didalam pohon ini. Di pohon ini terdapat sebuah lubang, dan lubang ini kujadikan tempat untukku tinggal. Sendiri, padahal kawan-kawanku yang lain berpasang-pasangan. Ya, aku malang, sangat malang.
               
                 Aku ingin sekali menyapanya. Menyapanya yang dulu pernah menjadi bahagiaku. Kita pernah bersama-sama menghabiskan pucuk daun teh yang nikmat itu. Ya, aku dan dia, dia yang kini menjadi pangeran kupu-kupu. Ah, entah ia masih mengingatku atau tidak. Tapi yang kutau kini ia telah hidup mapan di kerajaan kupu-kupu-nya. Dan mungkin ia tak akan ingat bahwa dulu kami pernah menjadi kepompong bersama di pohon ini.
                
              “Perhatian kepada seluruh rakyat kupu-kupu untuk berkumpul di lapangan samping     istana.”

Terdengar suara pengawal kerajaan mengumumkan berita melalui speaker yang dibuat menggunakan daun yang dibuat sedemikian rupa. Mendengar itu seluruh rakyat kupu-kupu keluar dari rumahnya dan segera terbang menuju lapangan yang terdapat disamping istana. Begitu pula aku. Perlahan lapangan yang tadinya kosong, kini telah dipenuhi oleh ribuan kupu-kupu. Dan aku berdiri di barisan paling depan. Aku melihat pangeran kupu-kupu berjalan didampingi pengawal kerajaannya menaiki panggung. Ah sayap itu... Lebih dari indah.
                
                  Semua mata tertuju kepadanya. Aku yakin semuanya tak akan percaya bila tau aku pernah bahagia berdua pangeran itu. Aku masih tetap memandangi pangeran itu, memandangi sayap indahnya. Sayap yang menjadi idola dari setiap kupu-kupu. Ingin rasanya aku membelai lagi pipi sang pangeran yang kini hanya tinggal angan bagiku.
                
            “Selamat siang semua rakyatku. Saya mengumpulkan kalian disini ingin memberitakan sebuah berita penting.  Minggu depan akan diadakan sayembara untuk menjadi putri di kerajaan ini. Dan putri itu akan menjadi istriku nantinya. Jadi siapapun kupu-kupu wanita, boleh mengikuti sayembara ini. Cukup sekian dan terima kasih akan perhatiannya.”

Ya, pangeran pun menuruni panggung dikawal pengawalnya. Kupu-kupu wanita yang ada disebelahku langsung berbicara dengan semangatnya, satu sama lain.

“Aku harus jadi istri pangeran!” sahut kupu-kupu wanita yang tinggal dipohon yang sama denganku tapi ia tinggal dibagian bawah.
           
           “Tidak! Aku yang akan menjadi penerus kerajaan ini.” sahut yang lainnya.
              
           “Huh, tentu saja aku. Lihatlah parasku sangat cantik dan pangeran pasti jatuh hati.” Sahut kupu-kupu wanita yang ku tau bernama Flywings. Ia biasa dipanggil wings oleh kawan-kawannya. Ia dijuluki sebagai kupu-kupu cantik, ia memiliki sayap yang sangat indah. Berwarna merah muda beserta warna putih yang sangat bersih. Jujur, aku iri pada kepakan sayapnya yang indah. Dan aku yakin pangeran akan jatuh kepadanya. Pupuslah sudah harapanku...
***
Seminggu kemudian....

Wings bersama kawan-kawannya bersolek didepan cermin. Mereka menggunakan baju pesta yang sangat indah, aku memandangi mereka dari balik jendela rumahku. Semua kupu-kupu wanita berusaha berpenampilan sebaik mungkin untuk menarik perhatian pangeran. Ya, mereka semua sangat cantik. Berbeda denganku. Aku hanya duduk dibalik jendela memperhatikan mereka semua. Aku tak berniat untuk hadir dalam sayembara itu. Karena aku tau semua itu hanya akan menjadi kesia-siaan saja. Jadi lebih baik aku disini dan mendengarkan sayup-sayup meriahnya di istana. 
                
              Pukul 10 pagi, semua kupu-kupu wanita keluar dari rumah masing-masing dan segera terbang menuju istana. Aku memandang semuanya dengan penuh rasa iri dan perlahan air mataku menetes.  Aku sedih aku tak dapat hadir ke pesta sayembara itu. Ya, mau bagaimana lagi? Aku tak punya gaun-gaun indah seperti yang mereka kenakan. Ah, sudahlah biarkanlah pangeran menemukan cinta sejatinya. Dan aku harus menerima jikalau bukan aku cinta sejatinya...
               
              Terdengar suara kemeriahan pemain musik istana memainkan alunan musik yang sangat indah. Dari jendela aku juga mampu menyaksikan balon-balon berwarna putih diterbangkan ke udara. Semuanya pasti berbahagia disana, dan aku bingung harus ikut bahagia atau....
***
Sementara itu di istana...

“Pengawal, semua kupu-kupu wanita sudah ku perhatikan. Tapi aku tak menemukan sosok wanita yang mampu membuatku jatuh hati. Bagaimana ini? Apakah semua wanita sudah berkumpul disini?” tanya pangeran.
                
            “Semua wanita sudah berkumpul disini, wahai pangeran.” jawab pangeran lembut.
        
            “Coba temui aku dengan kupu-kupu tercantik di wilayah ini.” perintah pangeran kepada
              pengawalnya.

Pengawalnya pun membawa pangeran menuju Wings. Kupu-kupu yang memiliki sayap paling indah. Alangkah senangnya Wings ketika dihampiri sang pangeran. Ia pun langsung berjalan layaknya model iklan yang sedang naik daun. Sayapnya telah dihias dengan manik-manik bewarna keemasan, sangat sempurna. Pangeran memperhatikan Wings, tapi kenapa tak ada getaran cinta yang ia rasakan. Pangeran merasakan ada seekor kupu-kupu wanita lagi yang belum hadir, tapi siapa?

“Pengawal, keluarkan kereta kencanaku. Marilah kita berkeliling wilayah sini, aku masih ragu bahwa semua kupu-kupu wanita sudah hadir disini.”  perintah pangeran.
             
             “Lalu bagaimana dengan pesta sayembara ini, pangeran?”
      
            “Halah, sudahlah. Biarkan pesta ini berjalan seperti ini, biarkan mereka menikmati semua
              yang ada disini. Cepat turuti saja perintahku!”
              
            “Baik pangeran.”  pengawal segera pergi mengeluarkan kereta kencana dan menuruti
              perintah pangeran.

Pangeran berdiri  di depan istana dan kemudian masuk ke dalam kereta kencana. Ia bersama para pengawalnya segera menuju perkampungan disini. Setelah sekitar 15 menit perjalanan, pangeran meminta pengawalnya memberhentikan kereta kencananya didepan sebuah pohon yang sangat besar.

                 “Berhenti! Aku teringat sesuatu akan pohon ini.” katanya kepada salah satu pengawal.

                 “Ingat apa, pangeran?”

                 “Aku pernah tinggal disini, dulu, sewaktu aku menjadi ulat. Ya, dan aku bersama seekor     
                ulat wanita. Namanya.... Aduh aku lupa nama wanita itu. Ia sangat cantik.”
              
                “Bagaimana kalau kita telusuri rumah-rumah yang ada dipohon itu, pangeran?”
              
                “Baiklah.”

Pangeran beserta para pengawalnya pun terbang menuju rumah-rumah yang ada dipohon besar ini. Dipaling bawah pohon pangeran hanya menemukan rumah yang kosong, ya mungkin semua kupu-kupu di rumah ini sudah pergi semua ke istana. Begitu pula ketika sampai dipohon yang paling atas. Semua rumah kosong, kalaupun ada hanya tinggal kupu-kupu jantan.

                “Semua rumah disini kosong dan tak ada wanita lagi, pangeran.” Sahut salah satu pangeran.

Tapi pangeran tak menghiraukan tiba-tiba saja ia terbang ke atas pohon yang lebih tinggi lagi. Karena ia melihat ada sebuah pintu disana. Dan ternyata rumah ini adalah rumah yang ditinggali Liza.
Pangeran mengetuk pintu rumah Liza. Dan tentu saja ini membuat Liza kaget karena belum pernah ada seorang pun yang bertamu ke rumahnya. Liza membukakan pintu. Alangkah terkejutnya ia melihat sosok yang ia cintai ada dihadapannya.  Pangeran diam, Liza pun diam. Mereka saling berpandangan. Ya, ada cinta dipandangan mereka.

                “Pangeran..” kata Liza lembut.

                “Namamu Liza?” tanyanya sambil memandang mata Liza.
Liza tak menyangka pangeran masih mengenalinya.

                “Kamu masih mengenaliku?”

                “Tentu. Mana mungkin aku lupa dengan seekor ulat semanis kamu.”

                “Ah, kamu berlebihan. Dulu aku memang seekor ulat yang manis. Tapi lihatlah sekarang.”
               
Liza menunjukkan sayapnya yang sama sekali tak indah.

                “Aku tak peduli itu. Aku hanya tau, aku pernah bahagia bersamamu. Kamu pernah ada
                dihidupku, Liza.”

Liza masih diam tak berbicara lagi. Ia bingung harus melakukan apa. Kemudian pangeran mengajaknya untuk terbang menuju istana. Tak mungkin Liza menolaknya, dan terbanglah mereka berdua menuju istana.

                Sesampainya di istana, betapa terkejutnya Wings dan kawan-kawannnya. Ia tak menyangka Liza, seekor kupu-kupu yang jauh dari kata indah itu mampu dicintai dan sekarang resmi menjadi istri dari pangeran yang sangat tampan. Semua kupu-kupu wanita disana memandang iri ke arah Liza ketika pangeran memeluk dan memakaikannya sebuah mahkota.

                Kini, Liza dan pangeran hidup bahagia. Sebahagia mereka sewaktu dulu. Liza dan Pangeran saling mencintai. Pengawal meminta kepada Liza untuk didandani, tapi pangeran menolaknya.

                “Tidak, biarlah dia seperti ini. Karena seperti inilah aku mencintainya.”

Senin, 27 Agustus 2012

Selasa, 21 Agustus 2012

Sisa Sesal


Aliran darah dari kantong darah itu terus mengalir untukku. Ah, penat didalam ruangan ini. Aku ingin keluar, aku ingin lepas dari penyakit ini, Bu.

Aku sendiri disini dan begitu mengkhawatirkannya, kekasihku, sungguh. Aku tak berniat mengganggu waktunya, aku tak ingin membuat amarahnya tumbuh. Aku betul betul takut akan terjadi hal-hal yang tidak ku inginkan.  Aku takut ia berpaling, berlebihankah? Aku tak ingin ia dimiliki wanita lain, egoiskah?

Kenapa begitu marahnya kamu ketika aku bertanya, “Kamu lagi sama siapa disana?”

Aku hanya ingin tau siapa yang ada disampingmu saat itu. Kenapa dengan mudahnya kamu membentakku?

“Gak usah berlebihan bisa gak? Aku merasa terganggu kalau setiap menit kamu telepon aku dan bertanya seperti itu.”

Ya, Tuhan. Sesak rasanya. Kenapa harus membentak? Kau pikir hatiku karang yang tetap bertahan ketika dihempas emosi dari sang ombak? Sabar, aku percaya semua akan indah sesuai rencana yang kuasa.
Aku hanya ingin kamu mengerti, perhatianku ini hanya karena aku ingin merasakan bahagia yang sedari dulu aku impikan, bersama kamu. Tapi kenapa perlahan-lahan rasanya kebahagiaan itu semakin menjauh.

                “Aku mau ketemu kamu, bisa?”

Pesanku untuknya yang ku kirim dua hari lalu, sebelum aku tergeletak di ruangan yang memuakkan ini. Aku menunggu balasan pesanku tapi ternyata tak ada satu pesan pun darinya. Kemana kamu, sayang? Apa kamu tau kalau aku lagi butuh kamu disini?

Gordyn rumah sakit masih setia membelai jendela. Begitupun aku yang masih begitu setia menunggumu membelai rinduku yang hampir membusuk.

Kenapa tak ada teleponmu?
Kenapa tak ada pesanmu?
Kemana kamu?
Apa rinduku tak sampai?
Apa kamu yang terlalu jauh melangkah?

Dokter bilang, kanker darah yang ku alami sekarang sudah semakin parah. Dokter sudah tak sanggup untuk terus menerus mempertahankan nyawaku. Aku ingin lepas dari jeratan mematikan ini, tapi apa mungkin?
Aku ingin sebelum aku pergi untuk selama-lamanya, aku bisa memelukmu penuh rindu. Tak sadarkah kamu? Sudah hampir dua bulan ini kita tak saling mengirim pesan, tak saling komunikasi. Andai kamu tau kondisiku saat ini..
***

“Kamu istirahat dulu ya, Wi.” Kata Ibu setelah aku diturunkan dari mobil.

“Iya, Bu. Dewi ke kamar ya.”

Aku berjalan tertatih menahan sakit yang terus menerus menyiksa. Aku duduk di tepi ranjangku. Ku ambil handphone-ku dan langsung mengirimi pesan untukmu.

                “Sayang, kamu kemana aja? Aku kangen banget sama kamu loh.”

Aku menunggu balasannya, satu menit, dua menit, dan 10 menit tak ada balasan darinya. Aku sudah hampir putus asa dan memutuskan untuk segera datang ke rumahnya tapi disisa keputus-asaanku, ternyata Reza membalas pesanku.

                “Gue lagi sibuk! Banyak kerjaan! Gak usah ganggu.”

Astaga, aku fikir semuanya akan berubah. Ternyata semuanya sama, ia masih membentakku seperti ini. Aku menangis beserta tetesan darah yang perlahan mengucur dari hidungku. Ku bersihkan darahku. Reza, aku ingin kamu yang membersihkan darah ini. Tapi, apakah kamu mau dan rela tanganmu harus berlumuran darahku?

Ku kirimi lagi pesan untuknya.

                “Kamu lagi sibuk, sayang? Ya, udah. Aku gak sms dulu ya. Kamu jangan lupa makan ya.
                Take care ya, sayang. I love you.”

Dan tak ada balasan lagi darinya. Dia memang benar-benar sedang sibuk, dan sekarang memang waktunya aku untuk mengerti. Tapi apa cinta selamanya harus mengerti walau jarang untuk dimengerti? Tolong beri aku alasan kenapa aku harus mengerti kamu tanpa peduli sakit yang sekarang ku rasakan.
***

Desiran angin yang cukup besar menggoyahkan foto-fotoku yang tertata rapih di depan jendela. Perasaanku menjadi tak enak kala melihat fotoku dan Reza pecah kacanya.

“Wi, jendelanya di tutup dong. Anginnya lagi kenceng tuh.” Teriak Ibu dari kamar.

“Iya, Bu.”

Aku segera menutup jendela.

Ah, kenapa hatiku menjadi risau seperti ini. Aku segera menelepon Reza.

“Halo, Reza. Kamu baik-baik aja, kan, sayang?”

“Wi, aku kedinginan.” Suaranya bergetar.

“Kamu dimana? Daritadi firasatku jelek terus, Za.”

“Aku di dekat kantorku, Wi. Bantu aku.”

“Aku kesana sekarang. Kamu tunggu ya.”
Klik.

Benar firasatku, Reza dalam keadaan yang buruk. Aku segera mengambil jaketku dan segera mencari angkutan umum untuk menuju ke kantor Reza.

“Kamu mau kemana, Wi? Kamu gak lihat diluar angin lagi besar banget. Sebentar lagi hujan.” kata Ibu saat melihat aku mengambil jaket dengan tergesa-gesa.

“Aku mau jemput Reza, Bu. Reza kedinginan sekarang.”

“Tapi nanti penyakit kamu kambuh lagi, sayang.”

“Aku gak peduli, Bu.”

“Hati-hati, sayang.” Pesan Ibu

“Iya, Bu. Aku pergi ya.”

Aku berjalan melawan kencangnya angin. Dan ternyata perlahan hujan mulai turun, aku berlari lebih kuat. Tapi ternyata darah itu menetes lagi. Aku menahannya dengan telunjukku. Aku berdiri di pinggir jalan untuk mencari taksi. 5 menit aku menunggu, terlihat sebuah taksi dari kejauhan, aku segera menghampirinya dan langsung masuk ke dalamnya.

“Pak, ke Kantor Ciwa Yuna, ya.” kataku kepada supir taksi.

Taksi melaju dengan cepat. Ah, aku tak menyadari, darah yang menetes dari hidungku semakin banyak. Tuhan, selamatkan aku..

“Mbak sakit ya?” tanya supir taksi yang melihat tanganku berlumuran darah.

“Gak kok, Pak. Biasa kalau lagi kedinginan memang seperti ini.” aku berbohong. Andai supir taksi ini tau penyakitku, mungkin sekarang ia akan mengantarku pulang dan membawaku ke rumah sakit. Ah, aku tak memikirkan penyakit ini, hanya satu yang ku pikirkan sekarang, Reza.
Taksi berhenti di depan kantor Reza, aku segera membayar argo taksi dan segera turun dari dalam taksi. 

Astaga, hujannya semakin deras. Aku melihat Reza tengah terduduk lesu di depan kantornya. Aku tersenyum, aku sangat senang aku mampu melihatnya lagi. Aku berlari menghampirinya. Tapi apa yang ku lihat? Sebuah mobil berhenti di depan Reza dan keluarlah seorang gadis yang sangat cantik. Ah, aku benci pemandangan ini. Gadis itu membawa Reza untuk masuk ke dalam mobilnya. Air mataku menetes, pertanyaan-pertanyaan mulai menghampiri otakku.

“Siapa gadis itu?”

“Kenapa dengan leluasanya ia menyentuh kekasihku?”

“Kenapa kelihatannya ia memiliki sebuah hubungan khusus dengan kekasihku?”

Aku masih terdiam. Melihat deruan mobil gadis yang membawa kekasihku itu menjauh. Aku tak menyadari darah yang terus menetes dari hidungku. Kakiku terasa sangat lemas. Aku pingsan...
***

Ku membuka mata. Hmm, rasanya sudah lama sekali aku tertidur. Aku melihat Ibu dan Ayah di sisi kanan dan kiriku. Ibu menangis. Sementara Ayah terus menerus mengelus tanganku.

“Ayah, Ibu, Dewi kenapa?” jawabku lemas.

“Dewi bangun? Alhamdulillah..” kata Ayah lalu mengecup keningku.

“Bu, dimana Reza?”

“Ibu gak tau. Ibu gak peduli dimana dia. Ibu cuma takut kamu kenapa-kenapa.”

“Ibu, tolong telepon Reza. Suruh dia kesini, oh iya suruh dia ajak pacarnya juga.”

“Pacarnya Reza?” Ayah bingung.

“Nanti Ayah dan Ibu tau sendiri semuanya. Sekarang Dewi mau ngomong sama Reza, Bu.”

Ibu segera menelepon Reza menggunakan handphoneku.

“Assalamualaikum, Reza.”

“Waalaikumsalam. Eh Ibu, ada apa, Bu?”

“Kamu bisa kesini?”

“Kemana, Bu?”

“Rumah Sakit Sejahtera.”

“Loh, siapa yang sakit, Bu?”

“Dewi. Dia bilang, dia mau ngomong sama kamu dan sama pacar kamu?”

“Hmm, pacar, Bu?”

“Dewi hanya bilang begitu.”

“Bisa saya bicara sama Dewi-nya, Bu?”

Ibu memberikan handphoneku, aku menerimanya.

“Ada apa, Za?”

“Maksud kamu pacar aku siapa? Pacar aku ya kamu.”

“Gak. Yang waktu itu jemput kamu hujan-hujan naik mobil. Kamu ajak dia kesini, ya.”

“Siska?”

“Entah siapa namanya, yang penting aku mau ketemu sama dia.”

“Kamu kenapa sih?”

“Cepat kesini atau semuanya terlambat.
Klik.
***

Ibu dan Ayah berdiri di sisi kiriku, sementara Reza dan Siska duduk di sisi kananku.

“Kamu sakit apa, Wi?”

“Gak perlu tau aku sakit apa. Za, maaf kalau selama ini kamu merasa terganggu dengan semua perhatianku, semua berlebihanku, semua yang udah aku lakuin ke kamu. Tapi aku Cuma mau disisa-sisa waktu aku, aku bisa jalanin bersama kekasih yang selama ini aku cintai, dan itu kamu. Tapi ternyata kamu udah menemukan sosok lain yang kamu sayang, dan itu bukan aku...”

“Wi, kamu ngomong apa sih. Aku tuh...”

“Aku lagi ngomong. Tolong jangan dipotong. Kalau memang Siska bisa menjadi apa yang kamu mau dan apa yang kamu inginkan, aku rela kamu pacaran sama dia.” Air mata menetes dari mataku, berat rasanya merelakan seseorang yang sangat ku cintai untuk bersama wanita lain.

“Kamu jangan ngomong gitu. Aku sayang sama kamu.”

“Terlambat untuk ngomong itu, Za. Sekarang aku mau tenang dan aku mau orang yang aku cintai bahagia walau bukan aku yang menciptakan kebahagiaan itu.”

Reza menggenggam tanganku erat, ia menundukkan kepalanya. Sepertinya ia menyesalkan sesuatu.

“Bu, aku mau tidur.” Pintaku pada Ibu dengan suara kecil.

Aku pun menutup mata dan aku tau mata ini tak akan terbuka lagi, usai sudahlah tugasku untuk hadir di dalam hidup Reza walau aku tak berarti apa-apa dihidupnya.
***

Seusai pemakamanku, Reza berbicara dengan Ibuku.
“Bu, Reza gak tau kalau Dewi punya penyakit ini.”

“Iya. Lagi pula Dewi meminta Ibu dan Ayah untuk merahasiakan ini. Dewi teramat sangat menyayangi kamu, Za.”

“Bu, Reza menyesal udah pernah bentak Dewi. Reza sering marahin Dewi.”

“Begitu banyaknya kesalahan yang kamu sesali? Tapi sadarkah kamu Dewi selalu membukakan maaf untukmu dan tak pernah melempar balik amarahnya?”

Reza benar-benar terpukul. Sekarang ia sadar, perhatian dari Dewi semata-mata hanya wujud kasih sayang dari seseorang untuk kekasihnya.
Reza menjalin kasih dengan Siska, tapi hubungannya tak bertahan lama. Karena Reza selalu saja membanding-bandingkan Siska dengan Dewi. Ia rindu perhatian Dewi yang membosankan itu. Ia rindu semua cerewetnya Dewi.

Reza, sekarang kamu tau, perhatianku yang membosankan itu sesungguhnya adalah hal yang sangat kau rindukan. Tapi sayang, sesuatu yang kau rindukan itu tak akan datang lagi. Terima kasih sudah menyia-nyiakan perhatianku yang membosankan itu, Reza...

Kamis, 16 Agustus 2012

TULUS


Aku masih menyayanginya.
Aku masih menunggunya.
Aku masih mengharapkannya.

Apa semua itu salah? Tidak, mana mungkin aku menyalahkan perasaanku sendiri.  Tuhan, apakah semua yang ku jalani sekarang akan berbuah manis? Atau justru masam? Perasaan ini memang sudah terlalu lama ku pendam, sehingga terlalu lama juga untuk ku buang. Kenapa semuanya tak berbalik kepadaku? Rinduku, bukan rindunya. Sayangku, bukan sayangnya. Harapku, bukan harapnya. Ah, ini sungguh tak adil aku yang menyayanginya tapi kenapa harus dia yg memilikinya?

“Kita cuma sahabat, kan? “
( Bodoh, tolol, ya jelas kamu hanya akan menganggapku sahabat! Kenapa juga ku tanyakan pertanyaan seperti itu! )

“Lo dimana, Yos?” terdengar suara ditelepon.

“Di rumah, kenapa?” jawabku malas.

“Main, yuk!” ajaknya.

“Kemana?”

“Gue mau beli kado buat Yesah. Temenin yuk?”

Ah lagi-lagi harus ada nama itu. Aku muak, Jo! Sangat muak!

“Kado? Emang dia ulang tahun?”

“Gak sih, Cuma mau kasih ke dia aja. Mau ya?”

Jujur, aku malas. Bagaimana mungkin aku tidak malas ketika seseorang yang ku sayangi memintaku untuk mengantarkannya membelikan kado untuk seseorang yang disayanginya? Ah, cemburu!

“Hmmm, gimana ya...”

“Ayo dong, Yosah! Please banget.” Mohonnya.

“Ya, udah. Jemput gue.”

“Siaaaap, Yosah sayang.”
Sayang? Ah lagi dan lagi ia menyebut panggilan itu. Membuatku semakin bingung.
***

“Yos, ada Jo tuh diluar.” Teriak Ibu.

“Iya, Bu. Sebentar.” Jawabku sambil menguncir rambutku yang acak-acak.

“Mau kemana?” tanya Ibu ketika aku keluar kamar.

“Mau nemenin Jo beli kado buat Yesah.” Jawabku singkat lalu mencium tangan Ibu.

Di luar rumah, Jo sudah berdiri di depan motornya.
“Lo mau pakai baju kayak begini?” pandangannya aneh setiap kali melihat gaya berpakaianku.

Aku mengangguk, “Ya, kenapa? Mau gue anterin gak nih?”

“Mau, mau! Yuk, naik. Nih helmnya.” Katanya lalu memberikan helm untukku.

Aku memakai helm dan duduk di jok belakang motor milik Jo.

Jo, seseorang yang sudah ku kenal sejak aku masih bersekolah di Taman Kanak-Kanak . Nama aslinya Joshua, tapi aku memanggilnya Jo, lebih singkat. Jo dari kecil sampai sekarang selalu menjadi idaman setiap wanita di sekolahnya. Entah karena memang sudah digariskan atau bagaimana, aku dan Jo dari dulu sampai sekarang selalu bersekolah di sekolah yang sama. Mulai dari TK,  SD, SMP dan sampailah sekarang di SMA. Jo memang memiliki karismatk yang sangat menawan dimata para wanita, ya tak salah memang jika banyak wanita yang tertarik pada ketampanannya. Jo termasuk lelaki yang royal, ia tak pernah memilih teman dalam bergaul, bahkan dari dulu sampai sekarang dia 
tak pernah mengeluh ketika harus mengantarkanku bermain bola dan layangan.

Mustahil kalau aku tak menyayanginya lebih dari sahabat. Bagaimana mungkin? Hampir setiap hari aku menghabiskan waktu bersamanya. Hampir setiap hari aku membonceng dimotornya, dan kalian tau? Banyak wanita yang iri kepadaku karena melihat kedekatanku dengan Jo. Tapi banyak juga loh yang kaget dengan kedekatanku, bagaimana mungkin seorang Jo mau menghabiskan hari bersama YOSAH, seorang gadis eh tunggu apa aku seorang gadis? Haha aku sendiri bingung. Aku selalu menolak jika disuruh menggunakan ROK! Asal kalian tau ya, aku memakai rok kalau sekolah saja. Tengok saja lemariku, kalian hanya akan menemukan sepotong celana-celana panjang yang tela ku potong menjadi pendek. Aku juga tak terlalu mementingkan dandananku, ya, tak seperti teman-temanku di sekolah yang selalu membawa sisir dan kaca di tasnya. Huh, whatever ‘bout this!  Aku benci sisir, aku benci kaca, aku benci semua hal yang berhubungan dengan kecantikan! Bagiku kecantikan tak perlu membawa sisir ataupun make up. Bahkan aku pernah mempunyai prinsip, orang-orang yang memakai make up itu adalah orang-orang yang tidak percaya diri.
***

“Mau beli kado apa buat saudara kembarku?” tanyaku ketika Jo memarkirkan motornya di sebuah mall besar.

“Dia sukanya apa?”

“Banyak.”

“Ya, udah lihat nanti.”

Aku dan Jo naik menuju lantai dua. Mencari-cari hadiah yang cocok untuk Yesah, saudara kembarku. Eh tunggu, aku belum cerita ya tentang dia? Mau aku ceritain gak? Iya, aku cerita kok. Tenang aja. Jadi aku ini kembar loh, kembaranku namanya Yesah. Kami berdua beda 5 menit lahirnya. Aku lahir lebih dulu, setelah itu baru Yesah. Tapi anehnya semenjak dari TK sampai sekarang, aku tak pernah satu sekolah dengannya. Aku dan Yesah memiliki banyak perbedaan. Yesah sangat mementingkan penampilannya, ia nampak selalu anggun dengan pakaian-pakaiannya yang bercorak warna-warni. Ia juga selalu mementingkan make up-nya. Ya, jelas saja Jo begitu tertarik kepada adikku, Yesah.

Perkenalan Jo dengan Yesah sebenarnya belum lama. Baru sekitar 1 tahun yang lalu, ketika aku dan Yesah masuk SMA. Saat itu Jo sedang main ke rumahku dan ia melihat ada sosok sepertiku di depan rumah. Ya, langsung saja aku ceritakan kalau sebenarnya aku ini kembar. Ya, sebenarnya agak menyesal kenapa aku harus mengenalkan Jo kepada adikku, Yesah. Kalau mereka tak saling kenal, tak mungkin mereka saling suka. Lalu bagaimana denganku?
***

“Eh ini cocok gak buat Yesah?” kata Jo sambil memperlihatkan sebuah mug berwarna merah muda, warna kesukaan Yesah.

“Lucu. Ya, udah beli ini aja.” Aku segera mengiyakan karena aku kurang betah berada ditempat-tempat seperti ini.

“Bener nih? Yakin Yesah pasti suka?”

“Yakin! Gue yakin sumpah! Ayo ah buruan bayar, terus pulang.”

“Iya iya.”

Di perjalanan pulang, Jo masih terus saja bercerita tentang pendekatannya dengan Yesah. Akan muak mendengarnya, tapi ya, sudah aku berpura-pura mengikuti alur ceritanya.

“Gue mau nembak dia nih, Yos. Kira-kira diterima gak ya?”
( Aduh bodoh sekali kamu, Jo! Kenapa kamu gak nembak aku aja? Jadi kamu gak perlu mengira-ngira akan diterima atau tidak! )

“Gue gak tau juga sih. Coba aja.”

“Nanti gue cari tanggal yang tepat deh buat nembak dia.”

Aku hanya diam sambil menyeka setetes air mata yang perlahan menetes.
***

Setiap harinya, di sekolah, Jo selalu semangat ketika harus menceritakan pendeketannya dengan adikku, Yesah. Aku harus bagaimana ini? Sampai kapan aku menahan semuanya? Kenapa Jo tak sadar ada aku yang menyayanginya tanpa pernah ia tanya apakah aku menyayanginya atau tidak? Kenapa Jo tak pernah mengerti maksudku yang selalu mengiyakan semua ajakannya untuk menemaninya kesana, kesini? Ah, Jo, peka lah sedikit tentang perasaanku....

“Yosah.” Teriak Jo memanggilku yang tengah asyik memaca komik di kantin sekolah.

“Ada apaan, Jo?”

“Malam ini gue mau nembak Yesah! Bantuin ya, please.”

Aku meletakkan komik yang tadi ku baca diatas meja. Aku menarik nafas panjang.

“Gimana?” tanyanya lagi.

“Bantuin gimana?”

“Ya, nanti pulang sekolah lo ikut gue beli bunga sama boneka!”
                ( Ah, kapan aku akan mendapatkan semua hadiah-hadiah darimu, Jo! )

“Hadiah lagi?”

“Iya, gak afdol dong kalo gue nembak dia tapi gak bawa hadiah.”

“Ya, terserah deh.”  Jawabku sedikit ketus.

“Kok marah?”

“Gak marah!”  suaraku meninggi.

“Lo kenapa sih, Yos? Gue ada salah sama lo?”

“Salah lo? Banyak!” aku lantas pergi meninggalkan Jo di kantin.

Aku lelah, Jo! Aku tak tau lagi bagaimana caranya agar kamu tau perasaanku. Apa aku harus menjadi Yesah supaya kamu memberikan semua kasih sayangmu? Apa aku tak cantik? Apa yang salah pada diriku, Jo! Aku menyayangimu, sungguh! Walaupun aku tak pernah ungkapkan itu, tapi aku tak pernah berhenti menyimpan rasa itu, Jo.

Malam harinya, Jo datang ke rumahku. Aku tau, aku lihat dari jendela kamarku. Dan kemudian, Yesah, adikku keluar menghampirinya. Mereka berdua duduk di teras. Aku menyaksikan semua pemandangan memuakkan itu. Ingin rasanya aku keluar kamar dan menampar adikku, tapi aku tak sejahat itu.
Air mataku perlahan menetes kala Jo menyatakan cintanya pada adikku. Dan matilah aku Yesah menerima Jo. Dan akhirnya mereka resmi berpacaran. Aku lihat saat Jo menggenggam tangan Yesah, aku lihat saat Jo mencium kening Yesah. Aku lihat semua yang aku impikan itu. Ah, Yesah memang sempurna. Tak salah jika Jo sangat mendambakannya.
***

Tak terasa, hubungan Yesah dan Jo sudah hampir dua tahun. Dan selama itu juga aku masih menyayangi Jo, kekasih adikku. Aku benci melihat mereka berpacaran, terlebih sekarang mereka berada di satu kampus  dan yang pasti Jo lebih sering menghabiskan waktu bersama Yesah, adikku.

Aku tak kuat lagi menahan semuanya, Jo. Akhirnya aku menulis surat yang nantinya akan ku berikan pada Jo. Aku tak akan memaksanya untuk memutuskan adikku dan menjadi pacarku, aku hanya mau ia tau bagaimana perasaanku kepadanya. Karena mungkin besok aku sudah tak ada disini, aku akan berangkat menuju Palembang dan melanjutkan kuliah disana.

Setelah ku tulis, aku mengetuk pintu kamar adikku.
“Yesah, buka dong.”

“Iya, ada apa, kak?”

“Ini, ada surat dari gue buat Jo. Kan besok gue gak disini. Eh tapi lo gak boleh baca! Ini rahasia antara sahabat soalnya.” Aku berbohong.

“Oke, kak!”
***

Pagi-pagi pukul 06:00 , aku sudah berangkat menuju bandara.

“Jaga diri baik-baik ya, Nak. Ayah dan Ibu selalu mendoakan kamu dari sini.” Pesan Ayah.

“Pasti, Yah.” Jawabku lalu mencium tangan Ayah.

Ibu memelukku sambil menangis. Ia membisikkan banyak nasihat untukku. Dan Yesah, ia juga menangis. Sepertinya ia akan kehilangan sebagian dari raganya.

“Yes, jaga Jo baik-baik, ya.” pesanku pada Yesah.

“Iya, pasti, kak.”

“Suratnya jangan lupa loh.”
***

“Sayang, ini ada surat dari kak Yosah.” Kata Yesah saat Jo bertandang ke rumahku. “

“Surat apa? Kok surat-suratan sih?”

“Iya, soalnya kan Kak Yesah udah gak disini lagi, yang.”

“Gak disini lagi? Maksud kamu?”

“Memangnya kak Yesah gak cerita ke kamu?”

“Cerita apa?”

“Dia kuliah di Palembang, dan tadi pagi dia berangkat.”

Jo diam, perlahan air matanya menetes. Ia memang menyadari kerenggangan hubungannya sekarang dengan Yosah. Bahkan Yosah tak mengabari kepergiannya untuk kuliah di Palembang. Jo meminta izin untuk pulang kepada Yesah.

“Aku pulang ya, sayang. Besok ketemu lagi.”

“Hmm, ya, udah. Kamu hati-hati ya.”
***

Dirumah, Jo membaca surat dari Yosah.

                                                                                                                              Jakarta, 12 Juni 2010
Dear Jo.

Jo, apa kabar kamu? Hehe, kesannya kita kayak udah gak ketemu bertahun-tahun ya? Tapi memang itu yang ku rasakan, Jo. Aku ngerasa gak pernah kenal sama kamu. Aku ngerasa asing buat kamu, bahkan terkadang aku canggung untuk sms/telepon kamu. Aku gak tau kenapa, Jo. Tapi ya itu yang aku rasain.

Jo, haruskah aku jujur sekarang? Setelah hampir 4 tahun aku pendam semuanya, sendiri. Kamu pasti bakalan ngira kalau aku ini cewek tomboy yang gak pernah kenal apa itu “Cinta” . Iya kan, Jo? Hmm, kalau iya berarti kamu salah, Jo. Aku gak tau kamu itu gak peka atau memang gak pernah peka? Apa kamu gak ngerasa aneh setiap aku tatap mata kamu? Apa kamu gak merasakan ada sayang yang mengalir dari setiap kedipan mata aku, Jo?

Jo, aku sayang kamu kamu. Eits! Lebih dari sahabat, ya. Aku tau kok kamu gak akan pernah bisa merasakan seperti apa yang aku rasain sekarang. Aku selalu siap nemenin kamu beli ini, beli itu buat adikku, Yesah. Boleh jujur gak? Aku cemburu loh, tapi ya mau bagaimana lagi kamu kan naksirnya sama adik aku, kan? Bukan sama aku? Bodoh gak sih kalau aku berharap kamu bisa suka sama aku layaknya aku suka sama kamu?

Jo, maaf sebelumnya kalau aku gak kasih kamu kabar soal kepergian aku ke Palembang ini. Aku Cuma bingung mau ngabarin lewat mana. Teleponku aja jarang kamu angkat, kan? Kamu baik-baik ya, Jo disana. Aku gak akan pernah lupa kalau aku pernah menyayangi bahkan masih menyayangi kekasihnya adikku sendiri.

Jo, terima kasih sudah membuatku mengerti apa itu tulus. Dari semuanya aku belajar bahwa tulus tak mesti memiliki. Aku teramat tulus menyayangimu, Jo. Ya, aku, aku yang selalu berpakaian layaknya lady rocker, aku yang selalu menguncir acak rambutku, aku yang selalu bermain layangan dan tak pernah menyentuh make up!

Jo, mungkin Cuma ini aja yang perlu kamu tau. Hehe, selebihnya ya kamu aja yang lanjutin. Aku sayang kamu, Jo!

Salam sayang,

     Yosah

Air mata membendung dikelopak mata, Jo. Ia tak menyangka kalau sahabatnya yang selama ini hanya dianggap sahabat olehnya mempunyai perasaan lebih untuknya. Jo mulai sadar dan kemudian segera menelepon Yosah.

“Yosah..”

“Iya, ada apa, Jo?”

“Maafin gue.”

“Maaf kenapa?”

“Gue gak pernah bisa ngerti maksud perhatian lo selama ini ke gue. Gue tolol!” Jo menangis.

“Jangan menyalahkan diri lo sendiri dong. Ya, udah sekarang kan lo udah bahagia sama Yesah, jalanin ya sama dia. Jangan kecewain dia. Yang penting sekarang lo udah tau perasaan gue ke lo kayak gimana.”

“Tapi, Yos, gue gak bisa.”

“Selama ini lo bisa, kan?”

“Anggep aja surat tadi tuh Cuma angin lalu.”

“Yosah, lo sempurna. Gue gak pernah ketemu cewek kayak lo, Yos.”

“Gak, gue biasa aja kok. Udah ya, Jo. Gue mau bersih-bersihin kamar dulu.”

“Tapi, Yos....”
Klik.

Maaf, Jo aku mematikan teleponku. Aku tak kuat menahan air mataku lagi. Sudah terlalu banyak air mataku tetes untukmu. Tuhan, inikah yang kau sebut tulus? Kalau memang iya, biarkanlah adikku merasakan kebahagiaan bersama Jo. Aku tak akan marah, hanya cemburu yang tak pernah absen hadir. 

Senin, 13 Agustus 2012

Darkness


“Oeekkk..Oeekkk..”

Terdengar tangisan dari dalam ruangan yang mendominasikan warna putih di dindingnya. Kalian tau tangisan siapa itu? Itu tangisanku! Hei, aku terlahir ke dunia ini. Huh, akhirnya keinginanku untuk melihat terangnya dunia tercapai, setelah 9 bulan lamanya aku bersemayan diperut Ibu. Kalian tau? Tak ada cahaya di perut Ibu, rasanya aku ada disebuah tempat yang sangat gelap. Dan sekarang waktunya aku untuk merasakan bagaimana dunia yang begitu terang menderang.

“Alhamdulillah, aku punya adik.” Terdengar suara seorang lelaki di luar ruangan. Ya, dia Hasby, dan dia kakakku.

Ayah mencium kening Ibu yang penuh keringat. Ibu menangis bahagia. Ayah mencium keningku yang masih memerah. Tanpa rasa malu, aku menangis. Aku merasakan ada yang aneh dimataku. Aku tak mampu membuka kedua mataku. Aku menangis keras. Dokter dan perawat segera membersihkanku dari basuhan darah.

Ayah, Ibu dan kakak menungguku yang tengah dimandikan. Mereka semua nampak sangat bahagia. Ah, Tuhan inikah keindahan yang selalu kau janjikan? Senyum sumringah dari anggota keluargaku ini.
Tapi kebahagiaan itu tak berjalan semestinya. Sambil menitikkan air mata, dokter mengajak Ayah untuk ke ruangannya. Entah, ada apa denganku? Kenapa dokter itu menangis?
                
            “Putri bapak mengalami kebutaan.” Katanya serius.

Astaga, aku buta. Tuhan, aku baru saja lahir. Aku baru saja mampu menghirup nafasku. Kenapa seperti ini, Tuhan?

Ayah terdiam sesaat, “Buta? Putri saya tak mampu melihat? Apa yang terjadi pada putri saya, Dok.!”

Ayah menangis, sementara dokter menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada diriku.

“Putri anda mengalami keganjalan pada saat didalam kandungan. Ya, peristiwa seperti ini memang  sering terjadi. Mungkin ini kesalahan pada sang Ibu yang sering mengkonsumsi makanan-makanan ataupun minuman-minuman yang berakibat fatal untuk buah hati.”

Ibu? Apa aku harus salahkan Ibu? Kenapa harus Ibu? Ibu sudah bersusah payah melahirkanku. Ibu sudah sekuat tenaga mengeluarkanku dari rahimnya. Tuhan, aku tak tau harus bagaimana. Lebih baik tak usah kau lahirkan aku, jika hanya kegelapan sepanjang hidup yang akan kuterima.
Dengan lesu, Ayah keluar dari ruangan dokter. Air mata masih membasahi pipinya. Ayah masuk ke ruangan dimana ada Ibu dan kakak disana. Kakak langsung menghampiri Ayah,

                “Yah, dimana adikku? Adik perempuanku, Yah.”

Ayah langsung memeluk kakakku. Ayah tau, kakakku pasti akan sedih jika Ayah menceritakan bagaimana kondisiku saat ini. Ayah terdiam dan hanya mampu menangis.

                “Ayah, kenapa? Adik perempuanku baik-baik aja, kan, Yah?”

Ayah masih menangis.

                “Adik perempuanmu buta, Kak.” Katanya pelan.

Kakak terdiam, kakinya terasa lemas, ia pun menjatuhkan dirinya dan terduduk dilantai. Air mata perlahan menetes. Kebahagiaan yang tadinya ia rasakan seakan pecah berganti air mata ini.

                “Ayah mau bilang ke Ibu dulu, Kak.” Ayah pun pergi meninggalkan kakak yang masih lemas.

Kemudian kakak keluar ruangan dan menangis diluar ruangan. Aku tau, ia sangat terpukul saat itu. Kakak, maafkan aku yang tak bisa memberikan kebahagiaan yang sejati untukmu...

                “Dimana putri kita, Yah?” tanya Ibu dengan suara yang sedikit lesu.

Ayah terdiam.

                “Lalu kenapa Hasby menangis dan keluar? Ada apa, Yah?” tanya Ibu lagi.

Ibu, tak seharusnya kamu lahirkan aku. Bunuh saja aku, Bu! Aku tak mau melihat air matamu, cukup air mata Ayah dan kakak yang kutumpahkan.

                “Putri kita mengalami kebutaan, Bu.” Kata Ayah pelan. Ayah tak mau melukai perasaan Ibu.

Ibu menarik nafas panjang, sepertinya ia tampak kuat mendengar berita tak mengenakkan itu. Tatapan matanya kosong, air mata nampak bergerombol dikelopaknya, perlahan dan perlahan. Akhirnya tertetes juga air matanya yang sangat mulia itu. Ibu tak bicara apa-apa. Ia hanya meneteskan air matanya dan terus menatap kosong.

                “Sekarang dimana putiku, Yah? Aku mau memeluknya sekarang.”

                “Putri kita masih di dalam inkubator, Bu. Ia masih sangat lemah.”

Ibu terdiam, hatinya berkata.

“Maafkan Ibu, Nak. Ibu telah salah mengasuhmu dalam kandungan, Ibu telah melakukan sesuatu yang tak seharusnya terjadi. Ibu berjanji, Ibu akan menjagamu tak peduli kebutaanmu. Ibu akan membuat hidupmu berarti, Nak. Ibu janji.”

Aku hanya mampu tertidur dalam sebuah kotak, aku tak mampu bergerak. Badanku diikat kain. Yang paling ku sesalkan, aku tak mampu melihat warna-warninya dunia yang selama ini selalu ku dambakan. Aku tak mampu melihat wajah kedua orang tuaku, aku tak mampu membelai sayang pipi kakakku.

Diluar jendela ruanganku, ada kakakku terus menatap ke arahku. Ia menangis, nampaknya ia ingin menggendongku.

                “Adik, kakak janji akan selalu ada buat adik. Kakak akan selalu ada disamping adik.”

***

Setahun sudah usiaku.

Dan setahun sudah juga aku tak mampu melihat indahnya dunia ini. Tapi aku tak mau bersedih terlalu larut. Ayah, Ibu dan kakak begitu menyayangiku. Dan itu semua lebih dari yang ku harapkan.
Aku hidup penuh dengan misteri, mungkin kalimat itu tepat untuk mewakili apa yang kurasa. Bagaimana tidak? Setiap harinya aku hanya mampu melihat gelap, aku tak mampu melihat apa yang ku pegang. Itu menyedihkan.

Tapi kakakku tak pernah pergi dari sisiku, ia selalu ada dan selalu siaga menjagaku. Bila ada teman-temanku mengejekku, dengan sigap ia langsung memarahi teman-temanku. Ah, terima kasih, kak. Umurku semakin bertambah dan sekarang aku sampai di bangku SD, aku sekolah di Sekolah Luar Biasa. Di sekolah ini aku tak perlu repot-repot beradaptasi, karena setiap murid di sekolah ini pasti memiliki kekurangan atau cacat ya, seperti aku ini.

Dulu, aku selalu mengira kalau Tuhan itu jahat, Tuhan sama sekali tak menyayangiku, karena aku dilahirkan dengan kecacatan seperti ini, tapi berkat sekolah ini aku tak lagi beranggapan seperti itu. Ternyata banyak yang mengalami sepertiku ini, ada beberapa dari mereka yang tak mampu berjalan karena tidak mempunyai sepasang kaki, sedangkan aku? Aku punya itu. Beberapa dari mereka juga ada yang tak mampu berbicara, tapi aku? Aku punya itu. Beberapa dari mereka juga ada yang tak mampu menulis, tak mampu mendengar. Hei, tengoklah! Aku mampu berjalan, aku mampu berbicara, aku mampu menulis, aku mampu mendengar! Aku punya yang mereka tak punya. Aku bangga akan diriku sendiri.

Waktu berjalan terus dan terus. Sekarang aku duduk di bangku SMP, Ayah bilang aku mampu bila harus bersanding dengan anak-anak normal, karena sewaktu di SLB-ku dulu aku termasuk siswi yang cerdas dan selalu mendapat peringkat kelas. Tapi aku menolak ketika Ayah menawarkanku untuk bersekolah di sekolah normal. Aku takut, mereka tak bisa menerima kondisiku. Tidak, aku bukannya menyerah. Aku hanya perlu beradaptasi dan itu membutuhkan waktu yang tak sebentar. Akhirnya Ayah pun menuruti kemauanku untuk melanjutkan sekolah di Sekolah Luar Biasa, lagi. Setiap paginya, kakakku selalu mengantarkanku ke sekolah dengan sepedanya. Ia tak pernah mengeluh ketika harus mengantarkanku sampai ke tempat dudukku di kelas. Sepanjang perjalanan, ia selalu bernyanyi-nyanyi kecil dan itu membuatku bahagia. Ia juga selalu menyemangati hari-hariku. Aku tak tau apa jadinya aku tanpa semangat darinya. Aku pikir, ia akan sangat marah mempunyai adik buta sepertiku.

Sampailah aku di masa putih abu-abu. Kalian tau apa itu? Ya, sekarang aku duduk di bangku SMA! Tapi lagi-lagi aku menolak untuk bersekolah di sekolah normal.

“Aduh Tiwi cantik banget pakai baju putih abu-abu.”  Seru kakakku saat aku sedang mencoba seragam baruku.

Aku hanya mampu tersipu, aku ingin bercermin. Aku ingin lihat secantik apa aku. Tapi sayang, Tuhan belum mengizinkan semua itu terjadi.
Pagi pertama sekolahku, aku diantar kak Hasby. Tapi kali ini menggunakan sepeda motor. Ya, Ayah baru memberikannya sepeda motor ini. Sepulang sekolah, kak Hasby selalu menjemputku. Ia sering mengajakku jalan-jalan, seperti siang ini. Kak Hasby mengajakku jalan ke sebuah taman kota. Kak Hasby bilang disini terdapat banyak bunga-bunga yang sangat indah.

                “Kak, aku mau lihat bunga-bunga indah itu.”
                “Sebentar, kakak ambilkan, ya.”

Tak lama, datanglah Kak Hasby.

                “Ini bunga mawar, hati-hati durinya tajam.” Katanya penuh sayang.

Aku hanya mampu menerka bunga itu, dan mencium harumnya.

                “Tiwi, kakak mau tanya satu hal sama kamu.”
                “Tanya apa, kak?”
                “Apa yang akan pertama kali kamu lakukan kalau nanti kamu bisa melihat?”
                “Ah, kakak. Itu gak akan mungkin.”
                “Gak ada yang gak mungkin, sayang. Jawab, ya.”
                “Hmm, hal yang pertama aku lakuin yaitu cium pipi Kak Hasby.”
                “Tapi kamu selalu cium pipi aku setiap mau berangkat sekolah.”
                “Tapi aku belum pernah mencium pipi kakak dengan mataku yang mampu melihat, kak.”

Kak Hasby menangis lalu memelukku, “Kakak sayang kamu, Tiwi.”

“Aku juga sayang sama kakak. Terima kasih ya, kak untuk semuanya. Aku gak tau apa jadinya aku tanpa kakak.”
“Kamu tunggu disini sebentar ya, kakak mau kasih kamu sesuatu.”
“Kakak mau kemana?”
“Tunggu disini.”

Kak Hasby pun pergi meninggalkanku dengan mawar disampingku. Aku tak tau kemana Kak Hasby, namun tak lama kemudian aku mendengar ada suara hentaman keras, ya, aku mampu mendengarnya. Suara apa itu, 
perlahan aku mendengar orang-orang berteriak, “Ada kecelakaan!” sontak, aku terbangun dari dudukku. 

Aku berjalan tertatih mencari sumber suara.

                “Siapa yang kecelakaan?”

                “Kemana kak Hasby?”

                “Tuhan, semoga bukan kak Hasby yang celaka.”

Tapi tiba-tiba saja ada seseorang yang hampir menabrakku dari belakang, aku hampir terjatuh tapi seseorang itu langsung menuntunku.

                “Ada apa ya? Maaf saya tak mampu melihat.” Kataku
                “Ada kecelakaan, Mba.”

Terdengar suara lelaki disana.

                “Siapa?” tanyaku.
                “Mba duduk disini dulu, ya. Saya mau melihat korbannya dulu.”

Aku duduk dikursi taman dan masih menunggu kak Hasby, tiba-tiba saja ada seseorang ,menepuk pundakku.
                “Dooorrr..” katanya.

Aku sangat mengenali suara itu.

                “Kakak kemana aja? Aku nungguin kakak.”
                “Kakak disini, sayang. Ohiya kamu mau janji satu hal sama kakak?”
                “Janji apa, kak?”
                “Kamu tadi bilang, kalo nanti kamu bisa melihat, kamu akan cium pipi kakak, kan?”
                “Iya, kak. Terus apa janjinya?”
                “Ya, itu janjinya.
                “Tapi kapan aku bisa melihat, kak.” Kataku sambil menggenggam tangan kakakku.
                “Gak lama lagi, sayang. Oh iya, kakak sayang banget sama kamu. Jaga diri baik-baik ya.”

Setelah itu aku tak merasakan lagi ada kak Hasby disampingku, aku berteriak.

                “Kak Hasby, kakak dimana, kak?” teriakku
                “Kak Hasby...”

Aku berjalan tertatih mencari-cari kakakku. Lalu seseorang yang tadi datang menghampiriku.
“Mba, mencari siapa?”
“Kakak saya, Mas. Namanya Hasby, tadi dia disini.”
“Hasby?”
“Iya, mas kenal? Dimana dia, Mas?”
“Tadi saya ke lokasi kecelakaan dan korbannya sudah dibawa ke rumah sakit. Lalu saya    melihat kartu tanda penduduknya dan namanya Muhammad Hasby As-Siqqin.”
“Itu nama kakak saya, Mas! Dimana dia sekarang, tolong antar saya kesana.”

Astaga kakakku kecelakaan. Lalu tadi siapa yang datang dan itu kak Hasby. Ah aku tak mengerti, Tuhan. Ya, Tuhan lindungi kakakku sebagaimana dia selalu melindungiku. Aku menangis keras, aku tak tau apa rencana Tuhan kali ini.

Tibalah aku di rumah sakit. Ternyata disana sudah ada Ayah dan Ibu yang langsung memelukku.
“Ibu, dimana kakak?”

“Kakakmu baru saja menghembuskan nafas terakhirnya, Nak.”

“Kakak udah pergi?” kakiku lemas aku tak mampu lagi menahan badanku.
               
“Sebelum kakakmu menghembuskan nafas terakhirnya, dia meminta agar matanya diberikan untukmu.”

Aku benar-benar tak menyangka semuanya akan seperti ini. Saat itu juga langsung dilakukan operasi donor mata. Aku mulai berpikir, memangnya mata orang yang sudah tiada bisa di donorkan? Ah, itu urusan Tuhan. Biarkan Tuhan mengatur sendiri rencananya. Bukankah Tuhan berhak mengatur yang tak mungkin menjadi mungkin? 

1 jam operasi berlangsung dan semuanya berjalan lancar. Dan sekarang aku mampu melihat. Aku mampu melihat kedua orang tuaku dan aku mampu melihat kakakku. Ia nampak kaku di atas ranjang rumah sakit. Matanya ditutup kapas, dan tak ada lagi mata disitu. Matanya telah menjadi mataku sekarang. Kak Hasby sangat tampan walau ada luka di sekitar pipi dan keningnya. Aku mencium kedua pipinya sambil menangis. Ku cium kedua tangannya.

Kubisikkan sesuatu ditelinganya.
                “Aku akan jaga mata kakak, terima kasih, kak. Selalu jaga aku dari sana, ya.”